Suara Merdeka Akan Tumbuh

"Nyata: Semangat Perlawanan Dan Perubahan Akan Segera Tumbuh Dari Bawah Tanah!" - Puisi Konkrit Merdeka, 2012 (@facebook: Yayak Yatmaka)

Gotong royong: is highly needed!

Gotong royong yang menjadi ruh bagi kerukunan dan budaya tatap muka selalu akan menjadi tolak ukur bagi persatuan dalam keberagaman kita

"Tak Tentu Arah (Tarian Bunda Pertiwi)"

Pertiwi menari tak tentu arah, menjadi bulan-bulanan para politisi oportunis yang ujung-ujungnya hanya akan menelantarkan kepentingan orang banyak atawa bangsa

Monday, September 10, 2012

Rahasia Doomsday Seed Vault Di Arktik


Oleh  F. William Engdahl

Bill Gates, Rockefeller dan raksasa-raksasa GMO tahu tentang sesuatu yang kita tidak tahu

Satu hal tentang si penemu Microsoft, Bill Gates, ialah (bahwa dia) tidak bisa dikatakan sebagai seorang pemalas. Dia sudah menguasai  pemrogaman pada usia 14 tahun dan menemukan Microsoft di usia 20 tahun saat ia masih tercatat sebagai salah satu mahasiswa Universitas Havard. Di tahun 1995 dia sudah masuk dalam Forbes sebagai orang paling kaya di dunia dan menjadi  pemegang saham terbesar di Micrisoft-nya, sebuah perusahaan yang ia dibangun dengan usaha keras untuk memonopoli secara de facto atas sistem  piranti lunak untuk komputer pribadi.

Pada tahun 2006, saat umumnya orang dalam keadaan demikian mungkin berfikir untuk pensiun dan menenangkan diri di kepulauan Pasifik, Bill Gates justru memutuskan untuk mengabdikan dirinya pada yayasan Bill and Melinda Gates  miliknya, sebuah yayasan pribadi yang bisa dikatakan sebagai yayasan paling  “terbuka” dan terbesar di dunia dengan penghasilan 34, 6 milyar USD dalam  bentuk sumbangan yang harus dikeluarkan sebesar 1.5 milyar USD  per tahun untuk proyek-proyek charity di seluruh dunia agar terbebas dari pajak  dengan status amal. Sumbangan tersebut berasal dari teman dan rekanan bisnis, mega-investor Waren Buffet di tahun 2006, yang sebagian dari 30 milyar USD diantaranya atau seharga saham di Buffet’s Berkshire Hathaway, telah  menempatkan Gate dalam sebuah perkumpulan yang menghabiskan biaya hampir  menyamai total anggaran tahunan organisasi kesehatan dunia PBB (WHO).  Jadi, ketika Bill Gates, melalui Gates Fundation, memutuskan untuk  menginvestasikan 30 juta dollar dari hasil jerih payahnya dalam sebuah proyek,  hal tersebut sangat patut untuk dikaji.
Tak ada yang lebih penting saat itu daripada sebuah proyek yang tidak lazim di salah satu tempat paling terpencil di dunia, Svalbard. Bill Gates sedang  menginvestasikan jutaan dolar di bank benih, di laut Barents dekat samudra arktika (Arctic Ocean) yang terletak 1.100 km dari kutub utara. Svalbard adalah sebuah  tempat tandus berbatu yang diklaim oleh Norwegia dan baru diserahkan pada  tahun 1925 melalui perjanjian internasional (lihat peta).

Di pulau yang “diabaikan tuhan” ini Bill Gates menginvestasikan puluhan juta dolarnya, bersama dengan Yayasan Rockfeller, Monsanto Corporation, Yayasan  Syngenta, serta pemerintahan Norwegia, pada apa yang dinamakan ‘bank benih  kiamat‘ (doomsday seed bank). Secara resmi proyek itu dinamai Svalbard Global Seed Vault di  Spitsbergen yang terletak di kepulauan Norwegia, bagian dari deretan pulau  Svalbard.

Bank benih dibangun di dalam sebuah gunung di pulau Spitsbergen dekat desa kecil Longyearbyen. Menurut pemberitaan mereka, bank benih tersebut sudah  hampir siap untuk ‘berbisnis’. Bank tersebut akan memiliki pintu tahan ledakan  ganda dengan sensor gerak, dua pengunci udara (airlocks), dan dinding beton  baja berketebalan satu meter. Di dalamnya akan mampu memuat hingga tiga juta  jenis benih yang berbeda dari seluruh dunia, dengan begitu menurut pemerintah  Norwegia, “keanekaragaman benih dapat terpelihara untuk masa depan”.  Benih-benih akan dibungkus secara khusus untuk mengeluarkan embun atau uap  lembab. Disana tidak akan ada staff yang bekerja seharian, tetapi relatif  susahnya akses kesana akan memudahkan mengamati kemungkinan apa saja dari  aktifitas manusia.

Apakah kita melewatkan sesuatu disini? Press Release mereka mengatakan “dengan begitu keanekaragaman benih dapat terpelihara untuk masa depan”. Masa depan seperti apa gerangan yang sponsor-sponsor seed bank sedang ramalkan  bahwa ia akan mengancam persediaan benih sekarang ini, yang hampir keseluruhannya sudah terlindungi dengan baik oleh bank-bank benih di seluruh dunia?

Tiap kali Bill Gates, Yayasan Rockfeller, Monsanto dan Syngenta, berkumpul bersama dalam sebuah proyek tertentu, patut rasanya kalau kita gali lebih dalam apa yang ada dibalik bebatuan Spitsbergen. Ketika kita lakukan, kita akan menemukan  sesuatu yang menarik.

Poin penting pertama yang perlu dicatat adalah siapa yang mensponsori ‘kubah  benih kiamat’ (Doomsday Seed Vault)? Berikut adalah mereka-mereka yang bergabung bersama orang-orang Norwegia  disini, seperti yang sudah dikemukakan, Yayasan Bill and Melinda Gates;  perusahaan agribisnis raksasa Amerika Dupont/Pioneer Hi-bred, salah satu  pemilik terbesar dunia atas benih tanaman transgenik (GMO – Genetic Modified  Organism) dan agrikimia  lain yang sudah dipatenkan; Syngenta, perusahaan besar benih GMO dan agrikimia  yang berbasis di Swiss melalui yayasan Syngenta-nya; Yayasan Rockfeller, group  swasta yang menciptakan “revolusi gen” dengan lebih dari 100 juta dolar uang  (dari) benih sejak tahun 1970an; CGIAR, jaringan global yang dibuat oleh  yayasan Rockfeller untuk mempromosikan pemuliaan genetik yang ideal melalui  perubahan pertanian.

CGIAR dan “The Project”
Seperti yang sudah saya jelaskan di buku Seeds of Destruction [1], di tahun 1960 yayasan Rockfeller, John D. Rockefeller III’s Agriculture Development Council  dan Ford Foundation menjalin kekuatan untuk mendirikan lembaga penelitian padi internasional (IRRI) di Los Banos, Philipina. Pada 1971, IRRI Rockfeller  ini, bersama dengan pusat pengembangan jagung dan gandum internasional yang  berbasis di Mexico serta dua dari international research center bikinan  Rockfeller dan Ford Foundation yang lain, IITA (untuk pertanian tropis), di Nigeria  dan IRRI (untuk padi), di Filipina, digabungkan untuk membentuk Consultative  Group on International Agriculture Research (CGIAR)

CGIAR terbentuk pada rangkaian konferensi tertutup yang diselenggarakan di  pusat konferensi yayasan Rockfeller di Bellago, Italy. Peserta utama dalam  pembicaraan di Bellago ini adalah Goerge Harrar dari yayasan Rockfeller,  Forrest Hill dari Ford Foundation; Robert McNamara dari Bank Dunia dan Maurice Strong, the Rockefeller family’s international environmental organizer, yang – selaku komisaris yayasan Rockfeller – mengorganisir pertemuan Earth  Summit PBB di Stockholm pada tahun 1972. Ini merupakan bagian dari dekade sepanjang upaya The Fundtion untuk menggiring ilmu pengetahuan ke pelayanan eugenika  (service of eugenics), sebuah versi keras dari pemurnian ras, sesuatu yang  disebut sebagai “The Project“.

Untuk memastikan impact yang maksimal, CGIAR mengikut-sertakan the United Nations’ Food and Agriculture Organization, Program Pembangunan PBB dan Bank Dunia. Dengan  begitu, melalui langkah perencanaan yang matang dan berhati-hati , Yayasan Rockfeller di  awal tahun 1970-an sudah berada pada posisi menentukan kebijakan pertanian global,  dan walhasil terwujud.

Dengan dibiayai oleh sang dermawan Rockfeller dan Ford Foundation melalui  bantuan penelitian, CGIAR melihat bahwa para ilmuwan terkemuka pertanian Dunia Ketiga dan agronomi dibawa ke Amerika Serikat untuk “menguasai” konsep  produksi agribisnis modern untuk kemudian dibawa krmbali ke negaranya masing-masing. Dalam prosesnya mereka menciptakan sebuah jaringan pengaruh yang tak  ternilai untuk promosi agribisnis Amerika Serikat di beberapa negara-negara tersebut,  terutama promosi ‘Revolusi Gen’ di negara-negara berkembang,  semua atas nama ilmu pengetahuan dan efisiensi untuk mendukung pertanian pasar  bebas.
***

Tuesday, August 28, 2012

“Tentara Lindungi Kebebasan Kita” & Kebohongan-Kebohongan Lain Yang Aku Pelajari Di Sekolah

Oleh Kevin Carson

Berikut adalah salah satu petikan pidato Barrack Obama dalam acara penerimaan  nobel yang dianugerahkan kepadanya: “Tapi dunia harus ingat bahwa bukan hanya lembaga internasional – bukan hanya perjanjian dan deklarasi – yang membawa stabilitas ke dunia pasca-Perang Dunia II. Apapun kesalahan yang telah kita buat, fakta yang jelas adalah ini: Amerika Serikat telah membantu menopang keamanan global selama lebih dari enam dekade dengan darah warga kita dan kekuatan tangan kita. Layanan dan pengorbanan para tentara kita telah mempromosikan perdamaian dan kemakmuran dari Jerman sampai Korea, dan memungkinkan demokrasi menancap di tempat-tempat seperti Balkan“.

Sebelum Mr. Obama sempat menepuk dadanya, mungkin kita harus melihat beberapa catatan berikut:

“Keamanan global” dan “stabilitas” berarti keamanan dan stabilitas suatu tatanan global yang dijamin oleh Amerika Serikat – sebuah tatanan global yang mencerminkan kepentingan koalisi dari kekuatan-kekuatan kelas yang mengontrol pemerintah Amerika.

Rekor Amerika Serikat sehubungan dengan “menancapkan demokrasi” juga jelas. Ketika US melayani dengan baik kepentingan dunia usaha untuk mengganti sistem kediktatoran dengan demokrasi formal, Amerika Serikat telah melakukannya. Tapi ketika dia sedang sangat cocok dengan kepentingan kekuasaan korporasi untuk menggulingkan demokrasi melalui kekerasan, pemerintah Amerika Serikat tidak segan-segan untuk melakukannya.

Banyak darah orang Amerika, memang, telah tumpah di medan-medan perang di seluruh dunia. Tapi terlebih lagi, banjir darah juga telah dialami oleh orang-orang yang tinggal di negara-negara itu, untuk melawan serbuan para tentara Amerika. Dan perang, di mana semua darah telah ditumpahkan, tidak ada hubungannya dengan kesejahteraan, kebebasan, atau kepentingan lain dari orang-orang di mana perang-perang itu dikecamukkan.

Daftar medan pembunuhan diwarnai dengan “darah warga kami” – dan banyak orang-orang lain – memang berlangsung lama. Ini mencakup jutaan yang dibunuh oleh rezim militer dan death squad di Amerika Tengah, dari penggulingan Arbenz pada tahun 1954 sampai dukungan AS untuk terorisme Contras ‘pada 1980-an. Ini mencakup para korban kediktatoran militer Kerucut Selatan (southern cone) Amerika Latin, (instalasi komunikasi di Zona Terusan Panama) dipasang dengan dukungan penuh dari Operasi Condor di tahun 60-an dan 70-an. Ini mencakup ratusan ribu yang dibantai oleh Suharto (dengan stasiun CIA Jakarta  sebagai penyusun hitlist) serta jutaan lainnya oleh Mobutu.

Tidak jarang Amerika Serikat melakukan intervensi untuk melindungi perusahaan-perusahaan yang menguasai dunia dari orang-orang yang tinggal di dalamnya (?) “who own the world from the people who live in it“. Seperti yang Noam Chomsky katakan, Perang Dingin dalam prakteknya dapat disimpulkan sebagai perang oleh AS terhadap Dunia Ketiga, dan oleh Uni Soviet terhadap satelit-satelitnya, dengan sebuah dalih “ancaman” dari  negara adidaya yang lain. Ini sangat mirip dengan apa yang Emmanuel Goldstein gambarkan tentang the three rival superpowers of “1984”: tiga janjang jagung yang saling menopang, dan memungkinkan satu sama lain untuk mempertahankan sistem internal kekuatannya masing-masing.

Salah satu item terpenting dalam kredo Amerika adalah keyakinan bahwa para tentara “melindungi kebebasan kita.” Dengan definisi: perang apapun yang Amerika Serikat jalankan adalah untuk tujuan  “Membela kebebasan kita.” Coba tonton acara berita kabel atau baca editorial surat kabar setempat pada Hari Veteran dan Memorial Day, jika Anda tidak percaya. Jika ada kepercayaan paling prinsipil bagi idiologi Amerikanisme Seratus Persen , ya inilah dia.

Saya pernah melihat Ketua  JCS (Joint Chiefs of Staff) Richard Myers, di C-SPAN, yang sedang menangani Army War College, mengkritik Cina (dengan wajah lurus) atas kepemilikan kekuatan militer di luar “kebutuhan pertahanannya yang sah.” Ini diucapkan seorang pejabat  militer peringkat tertinggi di negara adidaya global yang anggaran militernya melebihi budget militer seluruh dunia bila disatukan.

Ketika kebanyakan orang dengan akal sehat berpikir tentang “membela negara kita”, hal pertama yang terlintas dalam pikiran mungkin membela dari serangan militer yang sebenarnya di wilayah Amerika Serikat. Tetapi jika Anda melihat semua “ancaman” asing dimana pemerintah AS “membela” diri terhadapnya, anehnya mereka terutama justru mengkaitkan dengan apa yang sedang dilakukan oleh sebuah negara di belahan dunia lain sampai beberapa ratus mil dari perbatasannya sendiri. Kebanyakan dari mereka bahkan tidak memiliki kemampuan logistik untuk memproyeksikan kekuatan yang lebih dari beberapa ratus mil di luar perbatasan mereka. Jadi jika Anda berpikir tentang hal ini, adalah adil bahwa militer AS “membela negara kita” dan “melindungi kebebasan kita” di sisi lain dunia. Jika Paman Sam tidak cukup murah hati untuk bertemu dengan mereka lebih dari setengah jalan, tentu kita tidak akan pernah punya perang dengan siapapun.

Komentar Myers ‘tentang Cina, dan sifat dari “ancaman-ancaman” lain yang dimaksudkan, sejatinya Badan keamanan nasional AS sedang memberikan sebuah pandangan yang menarik tentang apa yang dinamakan “exceptionalisme Amerika”. Amerika Serikat adalah satu-satunya negara di dunia yang diizinkan untuk mendefinisikan sebagai “kemampuan militer yang berlebihan” atas kemampuan (bangsa lain dalam) menahan serangan Amerika. Amerika Serikat adalah satu-satunya negara dengan hak untuk mendefinisikan sebagai “agresi” atas apa yang negara lain lakukan di sekitar daerahnya sendiri di belahan dunia lain – sementara Amerika Serikat sendiri melakukan campur tangan militer di seluruh dunia untuk memaksa bangsa-bangsa lain untuk mematuhi kemauannya. Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang diperbolehkan untuk mendefinisikan sebuah “ancaman” sebagai kecakapan negara lain untuk tidak mematuhi perintah sang hegemon global dalam beberapa ratus mil dari perbatasannya sendiri. Secara definisi, suatu “ancaman” adalah setiap negara yang tidak melakukan apa yang diperintahkan.

Jadi ketika Liz Cheney mengkritik Obama karena tidak percaya exceptionalism Amerika, dia salah besar. Obama percaya sepenuhnya. Seperti yang Chomsky tunjukkan, kaum liberal Amerika, seperti juga banyak kaum konservatif, berbagi asumsi secara implisit bahwa “kita menguasai dunia”. Mereka mungkin percaya bahwa Vietnam atau Irak adalah “Kesalahan”, tapi tidak pernah untuk satu detik pun mereka mempertanyakan premis adakah Amerika Serikat memiliki hak untuk campur tangan dalam berbagai kasus tersebut.

Mari kita perjelas. Militer Amerika Serikat tidak “membela kebebasan kita.” Belum ada perang dalam hidupku yang menyangkut ancaman militer asing beneran atas kebebasan kita, dan pemerintah Amerika Serikat telah secara aktif terlibat dalam  menekan kebebasan di seluruh dunia untuk beberapa dekade. Pemerintah Amerika Serikat adalah ancaman bagi kebebasan kita, dan kebebasan orang di mana-mana.

——————————–
Kevin Carson adalah seorang penulis mutualis kontemporer dan anarkis individualis. Karya tulisnya meliputi Studi Ekonomi Politik mutualis dan Teori Organisasi: Sebuah Perspektif Anarkis Individualist. Keduanya tersedia secara online. Carson juga menulis untuk berbagai jurnal berbasis internet dan blog, termasuk Just Things, The Art of the Possible, the P2P Foundation dan Blog mutualisnya sendiri.

***

* Source:  www.informationclearinghouse.info
* Translation by Loji (www.tembelek.com)

Monday, August 27, 2012

Roundup Monsanto Sebabkan Cacat Lahir

F. William Engdahl

Sebuah studi ilmiah telah mengkonfirmasi keyakinan yang selama ini berkembang bahwa herbisida kimia yang paling banyak digunakan di dunia, Roundup yang diproduksi Monsanto Corporation, adalah beracun dan berbahaya bagi organisme manusia serta hewan. Penelitian ilmiah terbaru yang dilakukan oleh tim ilmiah multinasional yang dipimpin oleh Profesor Andrés Carrasco, kepala Laboratorium Embriologi Molekuler di University of Buenos Aires Medical School dan anggota Argentina’s National Council of Scientific and Technical Research, menyajikan sebuah demonstrasi yang meresahkan, yakni bahwa Monsanto beserta industri agribisnis transgenik telah secara sistematis berbohong tentang keamanan Roundup mereka. Roundup dalam pemakaian yang jauh lebih rendah daripada yang digunakan dalam pertanian dikaitkan dengan persoalan cacat lahir (birth defects). Implikasi kesehatan yang diakibatkannya sangatlah besar. Semua tanaman transgenik utama yang ada di pasaran saat ini secara genetik telah dimanipulasi untuk dapat “mentolerir” herbisida Roundup.

Glifosat telah dipatenkan oleh Monsanto pada 1970-an jauh sebelum GMO dikomersialisasikan sebagai apa yang dinamakan si pembunuh gulma spektrum luas (broad-spectrum weed killer). zat ini biasanya disemprotkan dan diserap melalui daun atau digunakan sebagai herbisida hutan. Pada awalnya zat ini dipatenkan dan dijual oleh Monsanto di bawah nama dagang Roundup, yang juga mengandung tambahan bahan-bahan kimia, dimana perusahaan menolak untuk menjelaskannya dengan dalih “rahasia dagang”. Pada tahun 2005, 87% dari semua ladang kedelai AS ditanami varietas kedelai transgenik tahan Glifosat dan disemprot dengan Roundup.

Karena benih-benih kedelai transgenik “Roundup Ready” (RR) Monsanto atau tanaman lainnya telah dimanipulasi semata-mata untuk menjadi “tahan” terhadap herbisida Roundup, sementara kehidupan semua tanaman lain di ladang tersebut terbunuh oleh Roundup, maka petani yang menggunakan benih RR juga harus membeli herbisida Roundup, (yang ini berarti) menciptakan captive market untuk baik benih maupun bahan-bahan kimia (dimana petani dipaksa untuk bergantung).

Masalahnya dengan pola pengaturan yang top markotop ini, selain dari fakta bahwa “super-gulma” tahan-Roundup sedang menyeruak sebagai sebuah bencana biologis baru, adalah bahwa glisofat saat ini telah terbukti memiliki keterkaitan dengan masalah cacat lahir, yang ini menegaskan keberadaannya sebagai salah satu zat yang paling beracun di dalam pertanian.  Meski demikian The US Government’s Environmental Protection Agency (EPA) masih tetap menganggap Roundup sebagai “relatif rendah dalam toksisitas dan tanpa efek karsinogenik maupun teratogenik”. Di Amerika Serikat Pemerintah AS dikenal tunduk pada data uji Monsanto dan industri agribisnis dalam membuat regulasi dan aturan-aturan tentang keamanan berdasarkan The 1992 doctrine of Substantial Equivalence yang menyatakan bahwa benih transgenik “secara substansial adalah setara” dengan benih-benih biasa dan karenanya tidak membutuhkan perlakuan kesehatan independen ataupun uji keamanan. Dan sementara herbisida diperlakukan sedikit berbeda, adalah fakta bahwa industri agribisnis yang mempengaruhi banyak kebijakan Pemerintah AS, telah mengasuransikan Roundup sebagai treatment paling ramah hingga saat ini.

Hasil Yang Meresahkan
Sebuah tim ilmiah internasional baru yang dipimpin oleh Prof. Andres Carrasco beserta para peneliti lain dari Inggris, Brasil, Amerika Serikat, dan Argentina telah mendemonstrasikankan bahwa glifosat, bahan aktif utama pada Roundup, dapat menyebabkan malformasi pada embrio katak dan ayam pada pemakaian dosis yang jauh lebih rendah dibanding yang digunakan pada penyemprotan pertanian serta jauh di bawah tingkat residu maksimum dalam berbagai produk, belakangan telah disetujui di Uni-Eropa*. Kelompok Carrasco tersebut diminta untuk meneliti dampak-dampak embrionis pada glifosat sebagai tindak lanjut dari laporan atas tingginya tingkat cacat lahir di daerah-daerah pedesaan Argentina, di mana kedelai siap tanam Roundup Ready (RR) milik Monsanto, yang secara genetik telah dimodifikasi, tumbuh pada area monokultur yang luas dan secara reguler disemprot melalui udara dengan pesawat. kedelai RR direkayasa untuk mentolerir Roundup. Dalam proses pertumbuhannya para petani bisa dengan leluasa menyemprotkan herbisida untuk membunuh gulma.

Carrasco mempresentasikan temuan kelompoknya tersebut dalam sebuah konferensi pers pada event European Conference of GMO Free Regions ke-6 di Parlemen Eropa, Brussels. Dia mengemukakan, “Temuan di laboratorium memiliki kecocokan dengan malformasi yang terjadi pada manusia yang terkena glifosat selama masa kehamilan.”

Laporan terjadinya penyebaran malformasi pada manusia mulai dilaporkan di Argentina  pada awal 2002, yakni dua tahun setelah  penyemprotan Roundup dari udara serta penanaman Kedelai RR dimulai. Hewan-hewan uji yang digunakan oleh kelompok Carrasco ini menunjukkankan mekanisme perkembangan yang serupa dengan yang terjadi pada manusia. Para penulis menarik sebuah kesimpulan “raise concerns about the clinical findings from human offspring in populations exposed to Roundup in agricultural fields“. Carrasco menambahkan, “Klasifikasi toksisitas glifosat terlalu rendah. Dalam beberapa kasus ini dapat menjadi sebuah racun yang sangat kuat”.

Tingkat maksimum residu (MRL) yang diperbolehkan untuk glifosat pada tanaman kedelai di Uni Eropa dinaikkan 200 kali lipat dari 0,1 mg/kg menjadi 20 mg/kg pada tahun 1997 setelah kedelai “Roundup Ready“  yang secara genetik dimanipulasi, diperdagangkan di Eropa. Carrasco menemukan kelainan pada embrio yang disuntik dengan 2,03 mg/kg glifosat. Secara tipikal kedelai biasanya dapat mengandung residu glifosat hingga 17mg/kg.

Pada bulan Agustus 2010 sekelompok massa menyerang kerumunan orang yang sedang berkumpul mendengarkan pembicaraan Carrasco tentang penelitiannya di kota La Leonesa, provinsi Chaco . Para saksi melihat adanya tokoh-tokoh agro-industri lokal terlibat dalam serangan itu. Viviana Peralta, seorang ibu rumah tangga dari San Jorge, Santa Fe, Argentina dirawat di rumah sakit bersama-sama dengan bayinya setelah penyemprotan  Roundup dari pesawat terbang di dekat rumahnya. Peralta dan penduduk lainnya mengajukan gugatan yang mengahasilkan larangan penyemprotan Roundup dan bahan kimia pertanian lainnya di dekat rumah oleh pengadilan setempat.[]

* Paganelli, A., Gnazzo, V., Acosta, H., López, S.L., Carrasco, A.E. 2010. Glyphosate-based herbicides produce terato-genic effects on vertebrates by impairing retinoic acid signaling. Chem. Res. Toxicol., August 9, Silahkan akses disini

Source. Tembelek.Com
** Translation By Loji

Saturday, August 18, 2012

Mudik Kita Untuk Apa?

Entah sejak kapan tradisi ini dimulai, mudik seperti menjadi 'upacara' tahunan saat lebaran tiba, dimana keluarga inti, sanak saudara, kawan tetangga, kembali bertemu, saling bersapa dan berbagi suka cita.

Ada kisah-kisah yang diceritakan. mereka saling bertanya kabar dan update kekinian. Inilah yang lantas sering diantisipasi secara latah oleh sisi lain kita yang nggak sempat ikut 'p
uasa'. Karena ingin terlihat "progress" tak jarang orang lantas terpaksa "mengada-ngada" dan lama kelamaan bahkan tak segan berbuat jahat: menipu, merampok, mencuri untuk alasan 'lebaran'. Bukankah lebaran adalah berarti mau bikin "lebar" (jawa: habis sama sekali) dosa-dosa, kesalahan dan memulai hidup baru yg lebih enlighted? Kalo alasan lebaran terus menjadikan seseorang bikin kejahatan baru yang lebih besar, lantas apa gunanya? Di sini lebaran kehilangan baik nilai sosial dan spiritualnya. Yang muncul jadinya malah lebaran sebagai motif baru yang mendorong kejahatan, dan ini jelas kontradiktif dengan semangatnya, dus nggak bener sama sekali.

Lebih-lebih tahun ini hari kemerdekaan kita, 17 Agustus, jatuh di dalam bulan Ramadhan pada hari menjelang iedul fitri. Nilai pembebasann yang ada dalam perayaan ini bertemu secara substansial dengan nilai pembebasan yang dikandung oleh lebaran. Membebaskan diri kita dari watak serakah dan menang sendiri. Separatisme bertemu dengan silaturahmi. berbagi dengan sesama bertemu kemanusiaan yang adil beradab serta keadilan sosial dan seterusnya. Jadi memahami motif lebaran mustinya dapat mencerahkan kita untuk menjadi "diri baru" yang lebih baik, lebih bijak dan mampu melakukan penetrasi kebaikan di masa sesudah berikutnya, untuk kemudian kita update lagi pada lebaran yang akan datang (insyaallah)

Mudik adalah kesempatan mengintegrasikan diri, lahiriah dan ruhiyah, pada nilai-nilai yang membuat kita masih 'ada' sampai saat ini. mudik adalah saat-saat dimana umat Islam "merayakan" kemenangan spiritualnya dan gegap gempita dalam kebahagiaan kolektif, dimana secara bersama-sama mereka lewati bulan yang menjanjikan "glory", termasuk kemenangan melawan desire duniawinya sendiri. Mudik, yang selalu harus mengingatkan kita, bahwa suatu saat yang mungkin tidak pernah kita sangka-sangka akan mengambil kita , kembali ke rumah abadi Tuhan Robbul Zaman, mudik yang sebenarnya.

Minal a'idhin wal Faizin. Saya, Lodzi, minta maaf kepada kawan2 semua atas segala khilaf baik yang saya sengaja atau tidak saya sengaja... Selamat Ied Mubarak. Selamat berkumpul bersama keluarga.

Friday, August 17, 2012

Pembicaraan Antara 2 Binatang Jalang



Untuk Chairil Anwar
d/a Pemakaman Umum Karet Bivak
(Hasyim Wahid)




Ini pembicaraan antara dua ekor binatang jalang.
Yang satu telah berkalang tanah, yang satu akan segera menyusul.
(Swastrawan, budayawan, teknokrat dan birokrat, kritisi, lembaga
survey, lembaga poll dan para parpol dilarang nguping !)

The young dead soldiers do not speak, begitu judul puisi
Archibald MacLeish yang kau curi, kata para sastrawan dan kritisi.

Nggak apa-2, kataku, meski aku belum lahir waktu itu. Dalam
ruhku ruhmu ruh tarji ruh batu ruh mantra kita, para binatang
jalang sudah tau sebelum lahir, mereka akan curi ribuan trilyun
dari bangsa sendiri dan teknokrat serta budayawan akan memberi
pembenaran untuk maling-2 itu.

and when the clock counts/ dan jam dinding yang berdetak
(sialan tarji! katanya dia sudah pecahkan tik-tok jam, ambil
jarumnya jadikan diam. tapi kok jam masih jalan?)
bunga utang masih meluncur laju dan bunga mantra mati layu.

We were young, they say. We have died; remember us./
Kenang, kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi.
(Kau plagiator hebat, nyontek dan diberi bumbu lokal yang
sedap. Itu lebih sedap daripada mengutak-atik pelatuk
austerity program IMF – maaf tarji aku nyontek darimu –
IMF toh juga sekedar mantra.) Kitab aslinya Mantra Betal Jemur
Adam Makna Bretton Woods – hampir semua ekonom juga
nyontek dari situ.

Tapi kau, binatang jalang yang dikubur di Karet Bivak,
tetap binatang jalang dan bukan Prabu Jayabaya atawa Nostradamus.
Kau tak bisa meramal jadi apa sekarang beribu tulang diliputi debu
yang terbaring antara Karawang-Bekasi.

Maka menangislah di Karet Bivak, saudaraku, menangislah
sederas-deras tangis di hari peringatan proklamasi
republik makelar dan pencoleng ini.
Semoga airmatamu dan beribu tulang mereka jadi tangga ke langit
mengintip kemana nyasarnya empat cita-cita kemerdekaan kita.

Jakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 2012.


* Hasyim Wahid
Lahir di Jakarta, 30 Oktober 1953
Otodidak.
Kumpulan puisi pertamanya ”Bunglon”
terbit tahun 2005, dan dipentaskan secara musikal
di tahun yang sama di Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Tuesday, August 14, 2012

Tempe, Super Food Dari Indonesia

Kalau anda orang Indonesia asli, lebih-lebih Jawa, sudah barang tentu anda tahu dan pernah mengkonsumsi tempe. Coba ingat-ingat kapan terakhir kali anda makan tempe. Apakah anda merasa miskin karena makan tempe? :D. Kalau anda merasa demikian, hal itu sangat bisa dipahami mengingat tempe adalah makanan "berbasis wong cilik" yang yang bisa ditemukan dimana dan kapan saja dengan mudah. Kenapa begitu? Karena makanan ini begitu ramah di lidah dan murah!

Dulu ketika sedang kenceng-kencengnya konfrontasi dengan Malaysia, Bung Karno pernah bilang dalam sebuah pidatonya "jangan menjadi bangsa tempe!". Di sini mungkin yang dimaksud ya jangan mudah patah seperti sifat fisik tempe plus bisa dihargai murah. Sayang dalam pidato itu seolah-olah Si Bung menegasikan sisi "super" dari tempe yang sangat bermanfaat bagi manusia. Namun beliau juga tak sepenuhnya salah, wong di jaman kolonialisasi faktanya tempe memang merepresentasikan perwujudan pribumi yang miskin, lemah, inferior dan tidak terdidik kok. Tapi ngomong-ngomong, benarkah tempe seburuk citra-citra yang dilekatkan kepadanya sebagaimana juga banyaknya sebutan berkonotasi negatif lain seperti mental tempe, otak tempe dan seterusnya? Mari kita tengok sedikit lebih dekat makanan kesukaan saya ini (anda juga kan?) sembari menunggu waktu berbuka puasa.

Rekam Jejak Mister Tempe
Tempe sudah ada sejak kita masih bocah. Ia juga ternyata sudah muncul di masa kanak-kanak bapak dan ibu kita, nenek kita, buyut kita... Ya, tempe sudah hadir berabad yang lalu meski kita tidak tahu kapan tepatnya. Yang terekam dalam catatan sejarah mungkin adalah bahwa tempe kira-kira bermula di suatu daerah pedesaan telatah Mataram Jawa tengah. Dugaan ini diperkuat oleh sebuah manuskrip Serat Centhini yang ditulis pada abad-19 di Surakarta.

Kisah dalam Serat Centini itu menceritakan tentang petualangan seorang anak bernama Cebolang beserta temen-temannya (sepertinya acara tv "Si Bolang" diambil dari nama ini. "Ce" ditulis dan baca "Si" Bolang) menjelajahi berbagai tempat untuk ngelmu (mencari pengetahuan) demi menemukan hakikat kebenaran. Dalam pengembaraanya Cebolang and Friends ini suatu hari sampai di sebuah desa bernama Bayat dan dijamu dengan berbagai hidangan makanan yang salah satunya adalah tempe. Berikut adalah teks Centhini pada Bab 3, 234 (41)

Jangan menir, pecel ulur pitik
Brambang kunci sambel sinantenan,
Brambang jahe santen tempe
Cupang sambele jagung
Dhedhakohe sambel kemiri
Asem sambel lothekan
Plapah sambel kukus
Untub-untub sambel brambang
Loncom jenggot bobor bubuk dhele
jemprit
Bence sambel kaluwak

Meski ditulis pada abad-19, namun kisah Cebolang ini mengambil setting waktu pada jaman kekuasaan Sultan Agung yakni pada sekitar abad-16. Kalau hal ini benar maka itu artinya tempe sudah eksis sejak sekitar tahun 1600 an atau sekitar empat abad kalau dihitung dari sekarang, bahkan lebih. 

Dalam rentang waktu yang lama ketika kolonialisasi terjadi atas bangsa Indonesia, ada saat dimana tempe memiliki konotasi yang minor sebagai makanan orang miskin atau rendahan yang berkebalikan dengan pola hidup kaum penjajah yang superior dengan makanan roti serta daging. Baru sejak sekitar pertengahan tahun 1960-an tempe mulai mengalami "kenaikan derajat". Perlahan-lahan image-nya membaik, dari yang tadinya dianggap sebagai makanan minor bergeser menjadi makanan yang lebih memiliki kesan positif seperti sederhana, murah, lezat dan dibutuhkan.

Simak syair tembang gubahan Ki Narto Sabdo berikut ini:

Tahu-tahu tempe X2
Asale mung soko dhele
Nadyan mung barang sepele
Nanging nyoto enake rasane.
Kabeh-kabeh butuhake
Jalaran murah regane
Blonjo sethithik
Bene sampe
Ora butuh kae-kae
Butuh cukup bendinane
Guyub rukun sak kluargane.

Dalam fase perkembangan berikutnya plastik (polietilena) sudah mulai dipakai menggantikan daun pisang sebagai pembungkus tempe. Ragi berbasis tepung (diproduksi mulai 1976 oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan banyak digunakan oleh Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia, Kopti) mulai menggantikan laru tradisional. Sementara itu (ini keuntungan apa kerugian?) kedelai impor mulai menggantikan kedelai lokal sebagai bahan dasarnya. Produksi tempe meningkat dan industrinya mulai dimodernisasi pada tahun 1980-an.

Selanjutnya (hampir 30 tahun kemudian) standar teknis untuk tempe ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) yang berlaku mulai 9 Oktober 2009, yakni SNI 3144:2009. Dalam standar tersebut, tempe kedelai didefinisikan sebagai “produk yang diperoleh dari fermentasi biji kedelai dengan menggunakan kapang Rhizopus sp., berbentuk padatan kompak, berwarna putih sedikit keabu-abuan dan berbau khas tempe”.

Rustono "King of Tempe"
Tempe mulai dikenal oleh masyarakat Eropa melalui orang-orang Belanda. Pada tahun 1895, Prinsen Geerlings (ahli kimia dan mikrobiologi dari Belanda) melakukan usaha yang pertama kali untuk mengidentifikasi kapang tempe. Perusahaan-perusahaan tempe yang pertama di Eropa dimulai di Belanda oleh para imigran dari Indonesia.

Melalui Belanda, tempe pun populer di Eropa sejak tahun 1946. Sementara itu, tempe populer di Amerika Serikat setelah pertama kali dibuat di sana pada tahun 1958 oleh Yap Bwee Hwa, orang Indonesia yang pertama kali melakukan penelitian ilmiah mengenai tempe. Di Jepang, tempe diteliti sejak tahun 1926 tetapi baru mulai diproduksi secara komersial sekitar tahun 1983.

Pada tahun 1984 sudah tercatat 18 perusahaan tempe di Eropa, 53 di Amerika, dan 8 di Jepang. Di beberapa negara lain, seperti Republik Rakyat Cina, India, Taiwan, Sri Lanka, Kanada, Australia, Amerika Latin, dan Afrika, tempe sudah mulai dikenal di kalangan terbatas.

Saat ini tempe bahkan telah dikembangkan menjadi obat untuk terapi berbagai penyakit di Inggris. di Jepang ada Rustono, seorang asal Jawa yang tinggal di sana. Ia telah membuat pabrik tempe dengan peralatan mesin yang semakin modern. tempe produksinya banyak tersebar diberbagai supermarket di Jepang. Rustono di juluki Si Raja Tempe. Sementarai Indonesia sendiri, seorang perajin tempe bernama Sohibien asal Jawa Tengah (penulis pernah berkunjung ke dapur produksi miliknya) telah dikontrak sebagai supplier tetap PT. Indofood untuk produk berbahan tempe dengan omset ratusan juta. Saat ini kita dapat menemukan tempe dengan bentuk olahan yang beragam, dari sebagai sayur, gorengan, kripik, brownis, burger dll.

Tempe, Super Food Dari Indonesia
Tempe terbuat dari fermentasi biji kedelai dengan menggunakan jamur Rhizopus Oligosporus, kelengkapan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai “ragi tempe”. Jamur atau kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisir senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia.

Tempe berwarna putih karena pertumbuhan miselia kapang yang merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat. Degradasi komponen-komponen kedelai pada fermentasi membuat tempe memiliki rasa dan aroma khas. Berbeda dengan tahu, tempe terasa agak asam.

Bagi para vegetarian, tempe bisa dijadikan sebagai alternatif pengganti daging. Sebab, tempe merupakan sumber pangan berprotein nabati yang bernilai tinggi. 100 gram tempe mengandung 18,3 protein, sedangkan 100 gram daging mengandung 18,8 dan 100 gram telur mengandung 12,2 protein. Karena proteinnya yang hampir sama dengan daging, maka tempe bisa dijadikan pilihan tepat sebagai makanan sehat pengganti daging.

Selain proteinnya yang tinggi, tempe juga kaya akan asam amino essensial, asam lemak essensial, serat pangan, kalsium, zat besi, vitamin B kompleks, serat, dan antioksidan. Nutrisinya yang banyak membuat makan asli Indonesia ini, bagus untuk jantung, mencegah diabetes tipe 2, anti kanker prostat sampai mencegah diare.

Kandungan lemak pada tempe juga terbilang sangat rendah. 100 gram tempe memiliki 4 gram lemak berupa 14, 5% asam lemak jenuh dan 17.3% asam lemak tak jenuh. Asam lemak tak jenuh inilah yang sanggup mengikis plak pada pembuluh darah yang bisa mengurangi resiko tekanan darah tinggi dan jantung koroner serta kanker.

Tempe Hilang Di Pasaran
Baru-baru ini media kita diramaikan dengan berita protes para perajin tahu-tempe yang menuntut penurunan harga kedelai yang tiba-tiba meroket. Hal ini konon diakibatkan karena masalah gagal panen kedelai yang ada di Amerika. (Percaya atau tidak, 80% stock kedelai dalam negeri kita sampai saat ini masih bergantung pada import dari Amerika). Dan sekitar dua tahun yang kita juga mendengar di berita ada seorang tukang gorengan yang nekad melakukan aksi bakar diri gara-gara ia tak bisa melanjutkan dagangannya akibat lonjakan harga bahan tahu dan tempe yang semakin tak bisa ia jangkau untuk memenuhi kebutuhan dagangannya.

Hal seperti ini tentu saja sangat ironis. Sebagai bangsa agraris - dimana produk sektor pertanian sebenarnya bisa lebih dikembangkan untuk menjadi tumpuan hidup seluruh warga bangsa - kita tidak mampu berbuat banyak di tengah derasnya arus perdagangan global dengan segala potensi yang kita miliki. Kedelai sebagai salah satu komoditi pertanian dan memiliki pangsa pasar yang sangat sangat jelas, yang tak lain adalah warga bangsa sendiri dengan produk tempe yang juga adalah hasil warisan dari bangsa sendiri, tidak mampu kita sediakan. Tidak berlebihan bila mengaca dari (salah satunya) kasus ini, lantas banyak orang yang bilang bahwa bangsa kita ini adalah bangsa yang salah urus. Keblibet globalisasi jadi nyungsang njempalik bingung bukan saja menentukan arah tujuan, tapi juga lupa dimana seharusnya pantat diletakkan dan tangan berpegangan.

"Tung durr..durr... Allahu Akbar...!"

Nahh... sudah adzan maghrib sodara-sodara. Selamat berbuka ya. Alhamdulillah, dengan mengucap syukur atas lancarnya puasa ramadhan hari ini, akhirnya.. seperti yang sudah-sudah, menu sore ini adalah kolak pisang, oseng kangkung, kare ayam dan penyet tempe... mak nyuss..!

Sunday, August 12, 2012

Menelisik Jejak Mason Bebas

Logo freemasonry pada lempeng besi penutup makam
Banyak orang telah mengetahui, mendiskusikan, membahasnya dalam berbagai media dan kesempatan tentang apa dan bagaimana sepak terjang Fremasonry (biasa disebut freemason atau mason bebas atau dalam bahasa Belandanya “Vrijmetselarrij”) sepanjang sejarah dunia, tapi lebih banyak orang tidak tahu bahwa organisasi ini mampu bertahan sekian lamanya dengan berbagai agenda ‘sumbu panjang’  dan 'bekerja' untuk bergulirnya tatanan dunia yang diingininya. Selain itu pula, tidak sedikit orang yang telah mengetahuinya namun tidak benar-benar percaya bahwa organisasi tersebut benar-benar beraktifitas secara terselubung dan melibatkan banyak sumberdaya manusia penting dunia sesuai jaman dan ruangnya masing masing.

Tarekat Mason Bebas Di Indonesia
Saya sendiri sebenarnya  juga tidak jarang bersikap skeptis dan bahkan tidak yakin akan berbagai wacana yang ada, sampai pada akhirnya saya mendapati sebuah buku berjudul Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962 yang ditulis oleh  Dr. Th. Stevens. Kabarnya buku ini hanya dicetak 5000 eksemplar diterbitkan 1 kali cetak yaitu pada tahun 2004 dan hak penerbitannya telah dibeli oleh pihak tertentu. (silahkan click link untuk download buku). Dalam buku tebal ini dijelaskan dengan gamblangnya bagaimana campur tangan freemason terhadap Budi Utomo di era pra-kemerdekaan beserta tokoh-tokoh penting yang mendukungnya. Berikut adalah salah satu petikan dari buku tersebut:

"...pengaruh Tarekat Mason Bebas atas emansipasi segmen penduduk Indo-Eropa telah mendapat perhatian, tidaklah terlupakan bahwa mereka juga mempunyai pengaruh dalam gerakan nasional Indonesia. Kaum Mason Bebas sudah pada tahap dini mengadakan hubungan dengan salah satu organisasi politik Indonesia yang pertama, yang bernama ‘'Budi Utomo'' ". (Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962, hal. xviii).

Banyak hal mengejutkan yang disuguhkan dalam buku ini kaitannya dengan sejarah awal kemerdekaan dan banyaknya pemimpin-pemimpin penting negeri ini yang ternyata sudah baiat sebagai anggota dari Freemason. Dan salah satu fakta menarik adalah bahwa Gedung Bappenas yang sekarang ini, ternyata dulunya merupakan semacam kantor pusat pengendalian operasi Freemason di Indonesia. Dalam sebuah kesempatan Harian Republika juga pernah mengulas tentang keberadaan gedung tersebut dan sejarah masa lalunya dengan memberinya label 'bekas rumah setan'.

Sepak terjang gerakan rahasia Freemason yang sangat kuat di level nasional saat itu bahkan kelak akhirnya membuat Bung Karno gusar dan merasa perlu mengeluarkan perintah larangan atas organisasi tersebut beserta seluruh underbow atau organ-organ taktisnya. Tapi apakah aktivitas Freemason lantas berhenti dengan demikian? Tentu saja hal itu sangat diragukan. Kecuali mungkin adanya upaya mengeliminir bentuk-bentuk mencolok yang mengindikasikan keberadaan dan aktifitasnya atau berkamuflase dengan berbagai bentuk baru yang lebih soft. Organisasi ini sudah berumur ratusan tahun dan bersifat lintas geografis. Jadi sangatlah tidak mungkin bila ia dapat dengan mudah dihalangi dengan sebuah surat keputusan presiden sekalipun.

Makam FJH Bayer di Peneleh
Dari buku tersebut akhirnya saya mendapatkan banyak pencerahan. Saya masih menambahkan dengan menggali berbagai sumber lain yang saya dapatkan dari internet. Dan suatu hari ada seseorang memberitahu saya bahwa terdapat sebuah makam Belanda di Surabaya yang salah satu kuburan di dalamnya terdapat logo yang mirip freemasonry. Saya pun meluncur ke kompleks pemakaman Peneleh yang sebagian besar sudah rusak atau dijarah para "pemburu harta karun".

Bayer "Si Raja Besi"
Dari ratusan orang Belanda yang dikebumikan di sana, dengan susah payah akhirnya saya menemukan kuburan yang dimaksud. Dan benar saja, kuburan atas nama F.J.H. Bayer (1807-1879), dimana bagian atasnya merupakan blok besi penuh itu terdapat logo freemason yang tercetak sangat jelas meski sudah berumur seabad lebih. Dari bentuk dan tanda-tanda yang ada di tempat itu dapat dipastikan jika orang yang dikuburkan di situ dulunya adalah anggota freemason dengan level yang tidak rendah. Dan yang menarik lagi, rata-rata makam di kompleks tersebut memiliki logo kematian yang umumnya bergambar sayap burung dan jam pasir. Tapi pada makam yang satu ini, bukan ukiran sayap burung yang kita temukan, melainkan sayap kelelawar. Menurut Denys Lombard gambaran seperti ini sangat mirip dengan yang biasa di temukan di dekorasi kapel penebusan, di Paris.

Setelah saya lakukan upaya pencarian informasi terkait makam tersebut, belakangan diketahui bahwa F.J.H Bayer mempunyai nama lengkap Frans Jacob Hubert Bayer. Denys Lombard pernah memasukkan namanya dalam sebuah kumpulan biografi singkat orang-orang Belanda yang dikebumikan di Peneleh dalam bukunya "A la Rencontre d’une Societe Defunte: Le Cietiere Chretien de Peneleh, Surabaya" yang dibuat tahun 1992. Dalam buku tersebut Lombard memberi keterangan yang singkat:

"originaire d'Aix-la-Chapelle, F.J.H. Bayer joua un role determinant dans l'essor industriel de Surabaya au XIXe s. Il fonda notamment de phoenix, puis de Volharding, deux ateliers metallurgiques qui fournissaient notamment les machines a vapeur, necessaires anx bateaux comme aux sucreries. Il mourut comble d'honneurs, dans sa grande maison d'Undaan, connu de tous sous le surnom de "roi du fer" (Ijzerkoning). On notera sur sa tombe, les symboles maconniques ainsi que le motif du sablier avec des ailes de chauve-souris (que L'on retrouve par exemple, dans le decor de la Chapelle expiatoire, a Paris)"

kira-kira artinya demikian:

"asli Aix-la-Chapelle, F.J.H. Bayer memainkan peranan penting dalam pertumbuhan industri Surabaya dalam abad kesembilan belas. Di samping Phoenix, ia juga mendirikan De Volharding, dua workshop metalurgi yang menyediakan diantaranya mesin uap untuk keperluan kapal... Dia meninggal dengan penuh kehormatan, di rumahnya yang besar di Undaan. dikenal semua orang dengan julukan " Si Raja Besi" (Ijzerkoning). Perhatikan di makamnya, simbol-simbol Masonik dan pola jam pasir dengan sayap kelelawar (yang ditemukan misalnya dalam dekorasi kapel penebusan, di Paris)"

Dari keterangan ini disebut-sebut bahwa Bayer adalah seseorang yang berjuluk Si Raja Besi, seorang industrialis terkemuka di Surabaya waktu itu dan menurut sebuah sumber ia adalah mantan karyawan dari perusahaan Constructie Winkel sebelum akhirnya mendirikan tiga bengkel besar yang di antaranya adalah Phoenix dan De Volharding pada 1841. Sangat dimungkinkan, karena capaian-capaiannya inilah lantas pada 1846 Pemerintah Belanda membangun sebuah bengkel untuk keperluan angkatan laut yang diberi nama Marine Establisment. Karena seperti disinggung lombard, perusahaan metal milik Bayer juga menyuplai keperluan mesin uap untuk kapal. Dan selanjutnya, masih menurut sumber yang sama, pada 1849, Kapal Belanda yang pertama dimasukkan dalam droogdok (galangan kapal) Marine Establisment ialah Semarang. Nah bekas Marine Establisment itu sekarang diperluas dan dinamakan PT. PAL.

Hal di atas menjadi bertambah terang dengan menyimak penjelasan Howard W. Dick dalam bukunya Surabaya, City of Work (Singapore University Press, 2003) :

"Konsentrasi fasilitas angkatan laut di Surabaya membuatnya menjadi salah satu instalasi pertahanan terbesar di asia tenggara dengan tenaga kerja harian sekitar 2 atau 3 ratus orang. pangkalan angkatan laut juga menjadi training ground (tempat pelatihan) bagi para manajer dan tenaga kerja yang terampil dari sektor swasta yang sedang bangkit. orang-orang seperti F.J.H. Bayer, A.W. Remmert dan F. Williems, yang telah mendirikan engeneering-shop swasta pertama di surabaya, dulunya memegang posisi yang tinggi di gudang senjata, toko boiler (ketel) ataupun pangkalan angkatan laut (Faber 1931, 170-5)".

Dalam kaitan yang sama, Marcel Bonneff, dalam Pérégrinations javanaises juga menyinggung, bahwa perusahaan kedua F.J.H. Bayer, Phoenix didirikan pada 1841 yang lantas di akuisisi pemerintah Belanda pada tahun 1844. Tujuh tahu kemudian (1851) perusahaan ini menjadigudang persenjataan tentara Belanda yang berada dalam lingkup kerja altillerie constructiewinkel.

Setelah perusahaannya diakuisisi pemerintah, Bayer kemudian mendirikan perusahaan lain yang lebih bergerak di sektor pabrik gula. perusahaan inilah yang dinamakan De Volharding" (yang berarti "toughness"), di mana pada 1860 telah dilengkapi dengan peralatan paling modern dan layak dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan modern di Eropa.


Gelar Penghargaan: Ordo Singa Belanda
Selain itu kita juga bisa mendapat informasi tambahan pada pahatan di lempeng besi penutup kuburan F.J.H. Bayer tersebut yang secara langsung bisa kita saksikan sampai sekarang. di sana dituliskan:

salah satu medali penghormatan
ordo singa Belanda
"Hier Ligt Het Stiffelyk Overschot Van Den Weledelgeb: Heer F.J.H. Bayer Ridder Der Orde Van Den Ned: Leeuw" (kurang lebihnya artinya: "di sini terbaring jenazah dari yang terhormat tuan besar FJH Bayer: Ksatria Ordo Singa Belanda".)

Bila kita tengok ke Wikipedia mengenai status penghargaan ini maka akan semakin jelaslah dugaan bahwa F.J.H. Bayer ini bukan orang sembarangan. Ksatria Ordo singa Belanda atau The Order of the Netherlands Lion adalah sebuah gelar keksatriaan dan kehormatan yang diberikan  kerajaan Belanda kepada orang-orang tertentu yang dianggap memiliki  jasa dan kapabelitas yang layak diperhitungkan dari berbagai disiplin: jendral militer, scientist, industrialist, politisi dll. Terdapat beberapa grade dalam pemberian gelar ini, seperti Knight Grand Cross, Knight Commander dan seterusnya. Saya tidak tahu persis tentang spesifikasi yang dimiliki Bayer ini.

Maka dalam kaitan tersebut, adalah masuk akal dan wajar bila ia merupakan anggota atau bahkan orang dengan level yang tidak rendah di jajaran gerakan rahasia Freemason yang ada di Indonesia (meskipun dalam hal ini belum kita dapatkan data-data lain yang mendukung), mengingat di kompleks Peneleh, hanya kuburan ini sajalah satu-satunya yang mencantumkan dengan jelas identitas Freemason (masonic symbol).

Synagogue Jalan Kayoon
Bentuk asli bangunan synagog
Ditemani seorang kawan, pada hari yang sama saya bergerak menyusuri beberapa jalan di Surabaya dan akhirnya sampailah saya di sebuah tempat, tepatnya di Jl. Kayoon 4-5. Pastinya cukup banyak orang yang sudah mengetahui tempat ini. Di sana berdiri kokoh sebuah bangunan belanda dengan tulisan yang tidak terlalu mencolok: synagogue.

Ya, tempat peribadatan umat yahudi itu sampai saat ini masih tegak berdiri. Hanya saja anda sudah tidak akan lagi dapat menemukan sebuah bentuk bangunan kuno ala  Eropa di tempat itu, karena bangunan itu kini sudah disulap sedemikian rupa menyerupai rumah hunian biasa dengan gaya yang elegan dan modern. Ketika saya berkunjung ke tempat itu pada november 2011, bangunan tersebut tampaknya baru selesai direnovasi karena bau cat masih tercium dengan jelas. Beberapa cerita yang melatarbelakangi, dimungkinkan adalah untuk menghindari berbagai kecurigaan masyarakat terkait aktifitas di sana. Hal ini sangat bisa dipahami karena ”gangguan” pada tempat itu juga kerap terjadi sebelumnya. Bahkan pernah suatu ketika tempat itu diserang massa yang mengatasnamakan gerakan Islam Pro-Palestina, pada saat terjadi peristiwa penyerangan Israil atas rakyat Palestina. Beberapa properti rusak akibat serangan itu, termasuk pintu kayu besar di bagian samping bangunan utama yang menjorok ke dalam dimana terukir bintang daud (bintang seperti dalam bendera Israil) dengan kaligrafi Ibrani.

Sesudah direnovasi menyerupai
rumah hunian biasa
Lalu apa gerangan hubungan tempat itu dengan makam Peneleh dimana Bayer disemayamkan? Jawabnya saya tidak tahu. Saya tidak bisa mendapatkan kepastian jawaban mengenai hal itu. Tapi adalah suatu fakta yang jelas, bahwa sejarah Freemasonry yang bercokol di Indonesia dan turut andil dalam berbagai gejolak nasional bukanlah isapan jempol atau sebuah teori konspirasi asal-asalan belaka. Kaum mason dengan visi humanisme materialistiknya masih terus bertahan untuk menjalankan takdirnya sebagai the opposite dari kekuatan spiritual teisme yang diyakini oleh sebagian ummat manusia, untuk kemudian menggantinya dengan sebuah keyakinan (yang sudah jelas mulai tampak bentuknya sekarang) bahwa segala hajat hidup dan kehidupan adalah berlangsung dengan sebuah mekanisme alami yang terjadi atas hukum kebetulan, di mana tidak ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Dan karenanya Tuhan tak lain adalah pengetahuan dan evolusi dari semesta itu sendiri di mana manusia berada pada peran yang determinan (main logo Freemason adalah jangka dang penggaris siku yang menggambarkan kekuasaan science. Huruf "G" yang biasa menyertai adalah "God") . New Word Order dilandaskan atas dasar filosofi ini, yang jika ditarik alur kesejarahannya akan sangat jauh sekali  membawa kita menelusup ke belantara gelap sempalan pasukan Templar yang menemukan manuskrip-manuskrip kuno, exodus Nabi Musa beserta ummat yahudi membelah laut merah menuju Yerusalem, hingga kabbala dan paganisme di zaman mesir kuno… Wallahu a’lam bis Showab..

Wednesday, August 8, 2012

Walhasil, Donald Bebek Dan Kita


Dulu waktu masih duduk di bangku SD, salah satu komik yang sangat saya sukai adalah Donald Bebek. Tidak mudah tentu saja untuk mendapatkannya di lingkungan tempat tinggal saya atau sekolah yang memang terbilang ndeso kesa-keso. bisa dapat pinjaman dari seorang teman saja sudah luar biasa senangnya. satu buku komik Donald yang berbentuk bandel tipis dan terdiri dari beberapa judul episode saja bisa saya baca ulang beberapa kali. Alasannya ya karena sangat senang itu tadi dan karena memang sulit untuk dapatin edisi yang lainnya.

Tentu. siapa yang tak kenal Donald Bebek beserta karakter-karakter lain yang biasa menyertainya. sebut saja Paman Gober, paman si Donald yang kaya raya tapi pelitnya minta ampun (saya bisa bayangkan marahnya Donald ketika sedang bertengkar sama Gober dan ingin pergi sejauh-jauhnya, tapi dimanapun ia menginjakkan kaki, belakangan dia tau kalo pulau terpencil pun ternyata juga kepunyaan Gober). Desi, sang pacar serta tiga orang ponakan Donald yang usil, Kwik, Kwek dan Kwak. Meski tidak berasal dari negeri sendiri dan merupakan produk industri besar lintas negara punya Disney, tapi faktanya kemunculan Donald, baik lewat film kartun maupun komik mampu menyedot perhatian anak-anak dan orang dewasa di seluruh dunia, termasuk Indonesia... termasuk saya.

 Sejarah Donald Bebek
Donal bebek memulai debutnya pada tanggal 9 Juni 1934, dalam suatu pagelaran gambar lucu simponi pandir dengan judul " ayam betina sedikit cara ". Pada saat itu sifat berapi-apinya sangat disayang kan oleh para pemirsanya, dan pada tahun 1940 popularitasnya melebihi Mickey Mouse di nomor gambar lucu yang kemudian ordernya cukup laris untuk gedung-gedung bioskop di Amerika. Dan ternyata, terbentuklah 128 film kartun Donal Bebek pada saat itu, dimana dia selalu lebih unggul dari Micky Tikus, Gufi, dan Pluto.

Suara Asli Donal Bebek adalah berasal dari seorang pemuda Amerika yang bernama Clarence "Ducky" Nash, dimana dia merasakan kesuksesan bersama Donal bebek selama 50 tahun. Kemudian Clarence Nash digantikan oleh Tony Anselmo. Pada tanggal 7 Februari 1938, Donal Bebek mulai masuk komik Koran.

Donal bebek selalu enak didengar dan dia selalu memiliki rasa pamrih yang baik. Dia selalu perhatian terhadap orang yang melihatnya. Walaupun begitu, tidak sedikit dia seringkali berlari ke arah yang salah, suka berkelahi, bukan profile Bebek pendiam, dan seorang pecundang.

Donal sendiri mempunyai nama lengkap yaitu Donald Fauntleroy Duck ( Nama tengahnya berasal dari Setelan Pakaian Pelaut). Situs Disney menyatakan tanggal kelahiran Donal Bebek adalah 9 Juni 1934, dengan debut film yang dirilis berjudul “The Three Caballeros”.

Sejak Tahun 1999, suara Donal Bebek tidak lagi dipegang oleh Tony Anselmo Suaranya di pegang oleh seorang Jepang, yang bernama Koichi Yamadera. Koichi sendiri dilatih oleh Tony Anselmo.

Donald Bebek Dan Propaganda Perang
Pada masa Perang Dunia II Donal Bebek juga digunakan sebagai propaganda berbentuk film, terutama pada film Der Fuehrer's Face yang muncul pada tanggal 1 Januari 1943. Didalam film itu, Donal bekerja di pabrik artileri di "Nutzi Land" (Nazi Jerman). Dia harus berjuang dengan waktu kerja yang sangat panjang, jumlah makanan yang sangat sedikit, dan harus memuja dan berkata Hail Hitler setiap dia melihat wajah Führer (Adolf Hitler). Terdapat banyak gambar Führer di tempat itu, contohnya saat Donal bekerja menutup amunisi, tiba-tiba muncul foto Führer, sehingga dia harus bekerja sambil berkata Hail Hitler. Bahkan, saat terdapat foto Führer yang terbalik, ia harus memujanya dengan keadaan terbalik dan berkata Hail Hitler. Foto Führer pun terus muncul dan sangat banyak, bahkan amunisi yang muncul dari yang sangat kecil sampai yang sangat besar, tentu saja hal ini membuat Donal sungguh menderita. Akhirnya Donal terbangun dan ternyata itu hanyalah mimpi buruk. Pada akhirnya, Donal melihat bayangan dan berkata Hail Hit.. namun ternyata itu adalah Patung Liberty dan lalu Donal bersyukur menjadi warga Amerika Serikat. Film Der Fuehrer's Face memenangkan Academy Award untuk Film Animasi Pendek pada tahun 1943, namun kini kartun ini telah dilarang beredar di televisi.

Selain itu dalam dalam episode-episode yang lain ia berkisah tentang kehidupan Donal di Angkatan Darat Amerika Serikat dan melakukan wajib militer dalam pelatihan dibawah sersan Boris. Misi pertama Donal adalah mensabotase lapangan udara Jepang. Kartun-kartun tersebut adalah:
  1.  Donald Gets Drafted    (1 Mei 1942)
  2. The Vanishing Private    (25 September 1942)
  3. Sky Trooper                 (6 November 1942)
  4. Fall Out Fall In             (23 April 1943)
  5. The Old Army Game    (  5 November 1943)
Pada tahun 1984, selama perayaan ulang tahun ke-50 Donal, US Army mengangkat Donal menjadi sersan karena filmnya selama Perang Dunia II. Upacara untuk Donal sama dengan upacara pengangkatan militer lainnya, dengan Donal mengenakan seragam militer dan menerima sertifikat serta lencana sersan, setelah itu ia memeluk Desi Bebek dalam kegembiraan.

Selama Perang Dunia 2 berlangsung, film animasi Disney dilarang beredar di Eropa yang diduduki Nazi Jerman. Oleh sebab itu, diputuskan untuk mendapat penonton baru dari Amerika Selatan. Donal memutuskan untuk berlibur ke negara-negara Amerika Latin dengan asistennya, selanjutnya dibuatlah 2 film animasi. Yang pertama adalah Saludos Amigos, disinilah Donal bertemu dengan Joe Carioca. Film kedua adalah The Three Caballeros. Pada film tersebut, ia bertemu dengan Panchito Pistoles.

Walhasil, Donald Dan Anak Kita
Bukan persoalan yang dimusuhinya adalah Nazi atau yang lain tapi adalah fakta bahwa ia juga tidak bebas nilai pada saat yang diperlukan. Jika Donald bebek atau serial-serial lain terbukti pernah dipergunakan negara-negara maju untuk membeckingi (ini basa inggris apa jawa ya? :D) kepentingan mereka demi tujuan pencitraan dan pembusukan (black campaign) untuk maksud mengkondisikan dan melegitimasi tindakan, maka tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa hal yang sama juga tidak terjadi pada kasus-kasus yang lain di era mutakhir. 

Sebelum benar-benar menyerang Irak dengan bala bantuannya, bukankah juga jelas bagi kita betapa gencar media dengan berbagai bentuknya untuk meyakinkan dunia bahwa Irak adalah ancaman seluruh dunia dengan program nuklirnya (hal serupa juga dilakukan untuk Iran atau negara-negara lain yang dibenci 'US and friends'). Setelah si negeri 1001 Malam luluh lantak dan istana kebanggaan bangsa itu diinjak-injak bala tentara Amerika apa lantas yang terjadi? seluruh dunia seolah diam seribu bahasa setelah tau bahwa tidak ada program nuklir yang terbuksi sebagaimana di tuduhkan. yang terjadi sebaliknya adalah tragedi okupasi negara tersebut oleh amerika untuk menguasai ladang-ladang minyak.

Kartun atau alat-alat propaganda lain yang sangat mungkin muncul pada media-media kita saat ini sangat rentan dengan pesan-pesan yang dapat membentuk pola pikir anak-anak, untuk kemudian pada gilirannya dapat dengan mudah untuk digiring pada muara kepentingan tertentu, yang sudah pasti tidak berbasis pada kepentingan kita sebagai sekumpulan orang yang berdaulat. propaganda ini tidak melulu berbentuk hasutan politik atau menyebaran kebencian tertentu, tapi pembentukan prilaku melalui definisi "good" dan "bad" pula akan menguntungkan kepentingan pembuatnya (pemesannya), dus memberi implikasi yang merugikan bagi bangsa kita. Karenanya sebagai orang tua, atau muda (yg akan tua) atau sodaranya yang sudah tua.... sudah seharusnya kita berhati-hati dan mendidik generasi bangsa ini dengan penih perhitungan dan jeli..... dan massif!


* Referensi Wikipedia dan beberapa tulisan lain

Tuesday, August 7, 2012

Always Young: Belajar Dari New Concept

My aunt Jennifer must be at least thirty-five years old but she often appears as a young girl on the stage with a bright red dress and long black stockings . she is an artist. if anyone ever asks how old she is, she always answers, "My dear, it must be terrible to be grown up!"

Ilustrasi di atas adalah petikan salah satu materi hafalan dalam buku The New Concept English karangan LG. Alexander. materi ini biasanya dihafal dalam beberapa kursusan bahasa Inggris untuk mengenalkan bentuk-bentuk kalimat dan penkayaan vocabulary. Di Pare Kediri, khususnya BEC (Basic English Course) pimpinan Mr. Kalend, new concept masih dianggap sebagai materi yang masih relevan yang disampaikan dengan model ajar sorogan ala pesantren yang ketat dan detil. tapi kali ini saya tidak akan membahas tentang new concept dan kelebihannya, melainkan materi yang berisi cuplikan cerita di atas itu saja, yakni yang berjudul "Always Young" (Chapter 17), yang kebetulan ini saya tuliskan bersamaan dengan hari dimana saya pernah dilahirkan, di saat umur saya sudah menjadi semakin bertambah seperti sekarang ini... hehehe....** tuing tuing... tambah tuweeekk... zzz..zz.. hehe..oke, mari kita mulai...

***

Ada saat dimana manusia begitu enjoy atas hidupnya pada suatu rentang waktu terntentu dengan aktifitas yang sangat disukainya. mereka tampak bersemangat dengan pengalaman-pengalaman baru dan bagaimana 'mempertontonkan' dirinya sebagai suatu subjek aktif yang 'layak diakui' oleh sejarahnya saat itu. Dan seperti tokoh Jennifer dalam ilustrasi tersebut. dia seolah terjebak dalam bayangan masa kejayaannya sebagai seorang aktris muda yang cantik dan sexi, sementara di saat yg sama dia pun terus tumbuh dan menjadi semakin tua saja. bukannya dia nggak tahu akan hal itu, tapi obsesinya untuk mempertahankan capaian yang pernah diraihnya membuat dia lupa bahwa pergeseran waktu berakibat pada relevansi yang mau tidak mau harus dihadapinya. sementara tokoh ini tidak demikian. dia seolah melakukan penolakan terhadap proses ini dan memaksa sejarahnya (setiap orang yang ada di rentang waktu tersebut) untuk tetap beranggapan bahwa waktu bukanlah soal, karena saya toh bisa tetap cemerlang dengan apa yang bisa saya lakukan, sebagaimana saya pernah melakukannya ketika saya masih muda dulu. kira-kira demikian. tapi Jennifer bukan tidak menyadari bahwa dia beranjak tua. dia bahkan berseloroh pada saat orang bertanya berapa umurnya. "My dear, it must be terrible to be grown up!", nada yang kental berbau penolakan.

Mau kemana tulisan ini mengarah? yah tentu anda sudah bisa tebak. bahwa umur akan selalu bertambah tanpa kita bisa menolaknya. ada saat di mana kita pernah merasa sedemikian bersemangat dalam hidup. menikmati suatu masa "menyenangkan" di masa muda kita yang gemilang yang dipenuhi mimpi dan gejolak. tapi ada suatu masa dimana kita juga dituntut untuk berfikir bahwa waktu telah memberikan ruang yang cukup lapang bagi manusia demi mendapatkan apa yang ingin didapat sembari terus melakukan update terhadap progress dirinya, melakukan penyesuaian demi penyesuaian terhadap lingkungan dan masa kininya. waktu akan mendewasakan kita dengan capaian-capaian pengalaman dan pengetahuan, tanpa kita harus stuck dan berhenti bergerak, entah karena kecapean atau trapt, terjebak dalam apa yang kita namai sebagai "masa gemilang" itu.

toh waktu juga berganti dan setiap orang yang bersama kita saat dalam kenangan itu pun musti mengalami hal yang sama. keterjebakan hanya akan menjadikan diri kita berhenti atau bahkan mundur kebelakang dengan romantisme, yang tentu saja ini absurd dan lebih banyak dipenuhi oleh halusinasi tentang suatu masa terbaik di masa lampau, yang kita bayangkan akan berbalik dan dapatkan kembali. padahal kalau direnungi, ketika pikiran kenangan ini membersit, bisa dipastikan kita sudah tidak disana lagi. jadi buat apa? bukankah masa "gemilang nun menyenangkan" itu dulu kita dapat juga karena perjuangan masa lalu kita yg gigih hingga lalu ia bisa tergapai. kenapa kita tidak mencontoh masa itu - dus sejarah diri kita sendiri. toh itu pun situasinya tidak sesempurna sebagaimana kita bayangkan. untuk sekedar mengenang, tentu suatu pengalaman akan menjelma indah semua, padahal pada waktunya yang asli bisa jadi pengalaman-pengalaman itu dipenuhi dengan kisah pahit dimana kita seringkali bahkan hendak menyerah lantaran tak kuat menahannya. Bersikap tidak menerima kenyataan hanya akan menjadikan diri kita terpelanting dan teralienasi diam-diam. semakin kita menghibur diri, semakin kita hilang dalam fantasi yang kita ciptakan, sementara orang lain mungkin tak peduli atau bahkan menertawakan kita di belakang, jadi apa untungnya?

Seperti Jennifer dalam kisah Always Young itu. kita terantuk waktu di mana tiba-tiba kita menemukan diri kita sudah tak relevan lagi, sementara kita sangat menyukainya, jadi bagaimana? keadaan objektif dan subjektif berdiri berhadap-hadapan, vis a vis dan menuntut untuk segera diambilnya keputusan yg tepat, apa yang terbaik. kalau kita menyerah dan memilih menjadi seperti Jennifer pun sebenarnya juga tak jadi soal, meski tentu dengan konsekwensi bergesernyanya citra lama menjadi citra baru berdasarkan fakta kekinian. kalau Jennifer saat umur belasan atau masih duasatu-an, orang mengelu-elukannya dengan perasaan yang sebenarnya bahwa dia cantik, cerdas dan seterusnya dan seterusnya, maka citra baru yang dia akan sandang pun bisa menjadi 'seorang tua yang menolak disebut tua', atau lebih kasar, 'nenek bangka genit yang lupa umur' de el el.

tapi bukan berarti di sini saya berpendapat bahwa orang tua gak boleh berjiwa seperti anak muda lho. kita tahu bahwa istilah "berjiwa muda" ini dimunculkan untuk memberi dorongan semangat dan spirit bertahan dalam menghadapi perjalanan hidup yang tentu tak selincah yang "dulu". Berjiwa muda bukanlah berarti bersikap ("bersikap" dengan tekanan) seperti anak muda, tapi lebih pada menjadi "relevan", tentu dengan semangat yang boleh bahkan lebih muda dari masa muda tergemilang sekalipun yang pernah dicapainya. jadi prinsipnya terletak pada spirit, bukan bentuk.

So guys. thats all deh ya minimal kontemplasi buat diri saya sendiri ... Always keep on fighting.. till the end. never give up struggle, tapi tetap dengan menyerap seluruh makna dalam perjalanan hidup yang mengajarkan banyak hal dari pengetahuan kognitif dan pengalaman yang sekiranya mampu mendorong diri kita menjadi lebih wise, lebih dewasa dalam mengarungi amanat hidup yang kita miliki sehingga kitapun akan dapat sempurna sebagai makhluk yang tau diri, sebagaimana Allah firmankan,

“Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya), dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah Swt, tidaklah dapat kamu menghinggakannya” (QS. Ibrahim: 33-34)


* Kediri, 8 Agustus 2012

Monday, August 6, 2012

Kerajaan Sumedang Larang

Kerajaan Sumedang Larang adalah salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-15 Masehi di Jawa Barat, Indonesia. Popularitas kerajaan ini tidak sebesar popularitas kerajaan Demak, Mataram, Banten dan Cirebon dalam literatur sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Tapi, keberadaan kerajaan ini merupakan bukti sejarah yang sangat kuat pengaruhnya dalam penyebaran Islam di Jawa Barat, sebagaimana yang dilakukan oleh Kerajaan Cirebon dan Kerajaan Banten.

Sejarah
Kerajaan Sumedang Larang (kini Kabupaten Sumedang) adalah salah satu dari berbagai kerajaan Sunda yang ada di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Terdapat kerajaan Sunda lainnya seperti Kerajaan Pajajaran yang juga masih berkaitan erat dengan kerajaan sebelumnya yaitu (Kerajaan Sunda-Galuh), namun keberadaan Kerajaan Pajajaran berakhir di wilayah Pakuan, Bogor, karena serangan aliansi kerajaan-kerajaan Cirebon, Banten dan Demak (Jawa Tengah). Sejak itu, Sumedang Larang dianggap menjadi penerus Pajajaran dan menjadi kerajaan yang memiliki otonomi luas untuk menentukan nasibnya sendiri.

Asal-mula nama
Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang beragama Hindu, yang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke XII. Kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, dan kemudian diganti lagi menjadi Sumedang Larang (Sumedang berasal dari Insun Medal/Insun Medangan yang berarti aku dilahirkan, dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya).

Pemerintahan berdaulat

Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri

Pada pertengahan abad ke-16, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan Sumedang Larang. Ratu Pucuk Umun, seorang wanita keturunan raja-raja Sumedang kuno yang merupakan seorang Sunda muslimah; menikahi Pangeran Santri (1505-1579 M) yang bergelar Ki Gedeng Sumedang dan memerintah Sumedang Larang bersama-sama serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Pangeran Santri adalah cucu dari Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah dan menyebarkan agama Islam di berbagai penjuru daerah di kerajaan Sunda. Pernikahan Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal dengan Prabu Angkawijaya.

 

Prabu Geusan Ulun

Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M) dinobatkan untuk menggantikan kekuasaan ayahnya, Pangeran Santri. Beliau menetapkan Kutamaya sebagai ibukota kerajaan Sumedang Larang, yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis). Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama, militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putera angkatnya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata/Rangga Gempol I atau yang dikenal dengan Raden Aria Suradiwangsa menggantikan kepemimpinannya.

Pemerintahan di bawah Mataram
Dipati Rangga Gempol
Pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620 M Sumedang Larang dijadikannya wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan statusnya sebagai 'kerajaan' dirubahnya menjadi 'kabupaten'. Hal ini dilakukannya sebagai upaya menjadikan wilayah Sumedang sebagai wilayah pertahanan Mataram dari serangan Kerajaan Banten dan Belanda, yang sedang mengalami konflik dengan Mataram. Sultan Agung kemudian memberikan perintah kepada Rangga Gempol beserta pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang, Madura. Sedangkan pemerintahan untuk sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede.

Dipati Rangga Gede
Ketika setengah kekuatan militer kabupaten Sumedang Larang dipergikan ke Madura atas titah Sultan Agung, datanglah dari pasukan Kerajan Banten untuk menyerbu. Karena Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten, ia akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur.

Dipati Ukur
Sekali lagi, Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta) yang pada akhirnya menemui kegagalan. Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak dilaporkan segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari pertanggung jawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.

Pembagian wilayah kerajaan
Setelah habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali untuk memerintah di Sumedang. Sedangkan wilayah Priangan di luar Sumedang dan Galuh (Ciamis), oleh Mataram dibagi menjadi tiga bagian :

  1. Kabupaten Sukapura, dipimpin oleh Ki Wirawangsa Umbul Sukakerta, gelar Tumenggung Wiradegdaha/R. Wirawangsa,
  2. Kabupaten Bandung, dipimpin oleh Ki Astamanggala Umbul Cihaurbeuti, gelar Tumenggung Wirangun-angun,
  3. Kabupaten Parakanmuncang, dipimpin oleh Ki Somahita Umbul Sindangkasih, gelar Tumenggung Tanubaya.

Kesemua wilayah tersebut berada dibawah pengawasan Rangga Gede (atau Rangga Gempol II), yang sekaligus ditunjuk Mataram sebagai Wadana Bupati (kepala para bupati) Priangan.

Peninggalan budaya
Hingga kini, Sumedang masih berstatus kabupaten, sebagai sisa peninggalan konflik politik yang banyak diintervensi oleh Kerajaan Mataram pada masa itu. Adapun artefak sejarah berupa pusaka perang, atribut kerajaan, perlengkapan raja-raja dan naskah kuno peninggalan Kerajaan Sumedang Larang masih dapat dilihat secara umum di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang letaknya tepat di selatan alun-alun kota Sumedang, bersatu dengan Gedung Srimanganti dan bangunan pemerintah daerah setempat.

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.