Suara Merdeka Akan Tumbuh

"Nyata: Semangat Perlawanan Dan Perubahan Akan Segera Tumbuh Dari Bawah Tanah!" - Puisi Konkrit Merdeka, 2012 (@facebook: Yayak Yatmaka)

Gotong royong: is highly needed!

Gotong royong yang menjadi ruh bagi kerukunan dan budaya tatap muka selalu akan menjadi tolak ukur bagi persatuan dalam keberagaman kita

"Tak Tentu Arah (Tarian Bunda Pertiwi)"

Pertiwi menari tak tentu arah, menjadi bulan-bulanan para politisi oportunis yang ujung-ujungnya hanya akan menelantarkan kepentingan orang banyak atawa bangsa

Showing posts with label non-kategori. Show all posts
Showing posts with label non-kategori. Show all posts

Tuesday, August 7, 2012

Always Young: Belajar Dari New Concept

My aunt Jennifer must be at least thirty-five years old but she often appears as a young girl on the stage with a bright red dress and long black stockings . she is an artist. if anyone ever asks how old she is, she always answers, "My dear, it must be terrible to be grown up!"

Ilustrasi di atas adalah petikan salah satu materi hafalan dalam buku The New Concept English karangan LG. Alexander. materi ini biasanya dihafal dalam beberapa kursusan bahasa Inggris untuk mengenalkan bentuk-bentuk kalimat dan penkayaan vocabulary. Di Pare Kediri, khususnya BEC (Basic English Course) pimpinan Mr. Kalend, new concept masih dianggap sebagai materi yang masih relevan yang disampaikan dengan model ajar sorogan ala pesantren yang ketat dan detil. tapi kali ini saya tidak akan membahas tentang new concept dan kelebihannya, melainkan materi yang berisi cuplikan cerita di atas itu saja, yakni yang berjudul "Always Young" (Chapter 17), yang kebetulan ini saya tuliskan bersamaan dengan hari dimana saya pernah dilahirkan, di saat umur saya sudah menjadi semakin bertambah seperti sekarang ini... hehehe....** tuing tuing... tambah tuweeekk... zzz..zz.. hehe..oke, mari kita mulai...

***

Ada saat dimana manusia begitu enjoy atas hidupnya pada suatu rentang waktu terntentu dengan aktifitas yang sangat disukainya. mereka tampak bersemangat dengan pengalaman-pengalaman baru dan bagaimana 'mempertontonkan' dirinya sebagai suatu subjek aktif yang 'layak diakui' oleh sejarahnya saat itu. Dan seperti tokoh Jennifer dalam ilustrasi tersebut. dia seolah terjebak dalam bayangan masa kejayaannya sebagai seorang aktris muda yang cantik dan sexi, sementara di saat yg sama dia pun terus tumbuh dan menjadi semakin tua saja. bukannya dia nggak tahu akan hal itu, tapi obsesinya untuk mempertahankan capaian yang pernah diraihnya membuat dia lupa bahwa pergeseran waktu berakibat pada relevansi yang mau tidak mau harus dihadapinya. sementara tokoh ini tidak demikian. dia seolah melakukan penolakan terhadap proses ini dan memaksa sejarahnya (setiap orang yang ada di rentang waktu tersebut) untuk tetap beranggapan bahwa waktu bukanlah soal, karena saya toh bisa tetap cemerlang dengan apa yang bisa saya lakukan, sebagaimana saya pernah melakukannya ketika saya masih muda dulu. kira-kira demikian. tapi Jennifer bukan tidak menyadari bahwa dia beranjak tua. dia bahkan berseloroh pada saat orang bertanya berapa umurnya. "My dear, it must be terrible to be grown up!", nada yang kental berbau penolakan.

Mau kemana tulisan ini mengarah? yah tentu anda sudah bisa tebak. bahwa umur akan selalu bertambah tanpa kita bisa menolaknya. ada saat di mana kita pernah merasa sedemikian bersemangat dalam hidup. menikmati suatu masa "menyenangkan" di masa muda kita yang gemilang yang dipenuhi mimpi dan gejolak. tapi ada suatu masa dimana kita juga dituntut untuk berfikir bahwa waktu telah memberikan ruang yang cukup lapang bagi manusia demi mendapatkan apa yang ingin didapat sembari terus melakukan update terhadap progress dirinya, melakukan penyesuaian demi penyesuaian terhadap lingkungan dan masa kininya. waktu akan mendewasakan kita dengan capaian-capaian pengalaman dan pengetahuan, tanpa kita harus stuck dan berhenti bergerak, entah karena kecapean atau trapt, terjebak dalam apa yang kita namai sebagai "masa gemilang" itu.

toh waktu juga berganti dan setiap orang yang bersama kita saat dalam kenangan itu pun musti mengalami hal yang sama. keterjebakan hanya akan menjadikan diri kita berhenti atau bahkan mundur kebelakang dengan romantisme, yang tentu saja ini absurd dan lebih banyak dipenuhi oleh halusinasi tentang suatu masa terbaik di masa lampau, yang kita bayangkan akan berbalik dan dapatkan kembali. padahal kalau direnungi, ketika pikiran kenangan ini membersit, bisa dipastikan kita sudah tidak disana lagi. jadi buat apa? bukankah masa "gemilang nun menyenangkan" itu dulu kita dapat juga karena perjuangan masa lalu kita yg gigih hingga lalu ia bisa tergapai. kenapa kita tidak mencontoh masa itu - dus sejarah diri kita sendiri. toh itu pun situasinya tidak sesempurna sebagaimana kita bayangkan. untuk sekedar mengenang, tentu suatu pengalaman akan menjelma indah semua, padahal pada waktunya yang asli bisa jadi pengalaman-pengalaman itu dipenuhi dengan kisah pahit dimana kita seringkali bahkan hendak menyerah lantaran tak kuat menahannya. Bersikap tidak menerima kenyataan hanya akan menjadikan diri kita terpelanting dan teralienasi diam-diam. semakin kita menghibur diri, semakin kita hilang dalam fantasi yang kita ciptakan, sementara orang lain mungkin tak peduli atau bahkan menertawakan kita di belakang, jadi apa untungnya?

Seperti Jennifer dalam kisah Always Young itu. kita terantuk waktu di mana tiba-tiba kita menemukan diri kita sudah tak relevan lagi, sementara kita sangat menyukainya, jadi bagaimana? keadaan objektif dan subjektif berdiri berhadap-hadapan, vis a vis dan menuntut untuk segera diambilnya keputusan yg tepat, apa yang terbaik. kalau kita menyerah dan memilih menjadi seperti Jennifer pun sebenarnya juga tak jadi soal, meski tentu dengan konsekwensi bergesernyanya citra lama menjadi citra baru berdasarkan fakta kekinian. kalau Jennifer saat umur belasan atau masih duasatu-an, orang mengelu-elukannya dengan perasaan yang sebenarnya bahwa dia cantik, cerdas dan seterusnya dan seterusnya, maka citra baru yang dia akan sandang pun bisa menjadi 'seorang tua yang menolak disebut tua', atau lebih kasar, 'nenek bangka genit yang lupa umur' de el el.

tapi bukan berarti di sini saya berpendapat bahwa orang tua gak boleh berjiwa seperti anak muda lho. kita tahu bahwa istilah "berjiwa muda" ini dimunculkan untuk memberi dorongan semangat dan spirit bertahan dalam menghadapi perjalanan hidup yang tentu tak selincah yang "dulu". Berjiwa muda bukanlah berarti bersikap ("bersikap" dengan tekanan) seperti anak muda, tapi lebih pada menjadi "relevan", tentu dengan semangat yang boleh bahkan lebih muda dari masa muda tergemilang sekalipun yang pernah dicapainya. jadi prinsipnya terletak pada spirit, bukan bentuk.

So guys. thats all deh ya minimal kontemplasi buat diri saya sendiri ... Always keep on fighting.. till the end. never give up struggle, tapi tetap dengan menyerap seluruh makna dalam perjalanan hidup yang mengajarkan banyak hal dari pengetahuan kognitif dan pengalaman yang sekiranya mampu mendorong diri kita menjadi lebih wise, lebih dewasa dalam mengarungi amanat hidup yang kita miliki sehingga kitapun akan dapat sempurna sebagai makhluk yang tau diri, sebagaimana Allah firmankan,

“Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya), dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah Swt, tidaklah dapat kamu menghinggakannya” (QS. Ibrahim: 33-34)


* Kediri, 8 Agustus 2012

Friday, August 3, 2012

9 Kebiasaan Menyegarkan Otak

Rasa jenuh dengan aktivitas sama setiap harinya dapat menimbulkan depresi. Kebosanan ini juga bisa membuat otak Anda merasa 'kurang tertantang'. Jika Anda sering mengalami hal ini, jangan diam saja. Lakukan latihan berikut ini yang bisa membuat Anda seperti memiliki otak 'baru'.

Dorothea Brande, penulis dan editor asal Amerika Serikat yang terkenal dengan bukunya "Wake Up and Live and Becoming a Writer", menyarankan beberapa latihan mental untuk membuat pikiran Anda jadi lebih tajam. Latihan-latihan dimaksudkan untuk menarik Anda keluar dari kebiasaan dan rutinitas, memberikan Anda perspektif berbeda, serta menempatkan Anda dalam situasi yang membutuhkan akal serta kreativitas dalam memecahkan masalah.

Brande percaya, hanya dengan melakukan pengujian dan peregangan sendiri Anda mengembangkan kekuatan mental. Berikut sembilan latihan yang disarankan oleh Brande yang bisa Anda coba, seperti dikutip dari Divine Caroline.
    1. Habiskan satu jam setiap harinya dengan tidak berkata apa-apa. Kecuali, untuk menjawab pertanyaan secara langsung, di tengah-tengah kelompok, tanpa menimbulkan kesan bahwa Anda merajuk atau sakit. Cobalah bersikap sebiasa mungkin.
    2. Berpikirlah selama 30 menit setiap hari tentang satu subjek. Mulailah dengan berpikir dalam lima menit jika 30 menit terlalu lama.
    3. Berbicaralah selama 15 menit per hari tanpa menggunakan kata "Aku", "Saya", dan "Milik saya".
    4. Cobalah untuk diam di tengah keramaian
    5. Lakukan kontak dengan orang baru dan biarkan ia menceritakan banyak hal soal dirinya tanpa ia menyadari.
    6. Ceritakan secara eksklusif tentang diri sendiri dan kesenangan Anda tanpa mengeluh, membual atau membuat bosan teman Anda.
    7. Buat rencana selama dua jam per hari dan lakukan rencana itu dengan konsekuen.
    8. Buatlah 12 kegiatan yang dilakukan secara acak dan spontan. Misalnya, sepulang mendatangi tempat makan yang belum pernah dikunjungi sebelumnya lalu pulang bukan dengan naik taksi tetapi ojek. Atau, biasanya pada pagi hari Anda minum kopi, minumlah air putih atau jus. Usahakan kegiatan tersebut berbeda dari rutinitas Anda.
    9. Dari waktu ke waktu, luangkan setiap harinya menjawab "Ya" untuk setiap permintaan orang lain, tapi tentunya yang masuk akal.
     ------------------------------------
    *Sumber tulisan: www.indoforum.org

    Thursday, January 5, 2012

    Negeri Korup Yang Teramat Berengsek!

    [Critanya ini sambil nyicil boyongan konten. Tulisan ini saya kopas dari blog saya sebelumnya, infectionary yang sudah nggak bisa saya akses lagi lantaran account email kena hack skitar 2 tahun lalu. korban keylogger. (hati-hati menggunakan warnet. pastikan nggak ada keylogger di dalamnya yang berfungsi merekam sluruh aktifitas keyboard anda termasuk password dll). Tulisan ini saya posting di blog tersebut pada oktober 2008.]

    Korupsi sudah sampai pada level yang sangat mengerikan di negeri ini. Seperti pepatah, "guru kencing berdiri, murid kencing berlari", para petinggi negeri balapan korupsi, rakyat tak segan saling sikat dan menang sendiri. Praktik pungli dan jual beli jasa dengan memanfaatkan keadaan sulit nyaris merupakan makanan sehari-hari di negeri yang konon menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan dilindunginya hak-hak publik. Kesuliatan orang lain adalah lahan empuk untuk mengeruk keuntungan lebih besar. dan tidak ada alasan "malu" untuk melakukan hal seperti itu, karena di tempat lain pun pasi begitu alias ora melu edan ora kumanan (Ronggowarsito).

    Namanya juga masa lebaran, seperti juga arus mudik, tanggal 13 oktober aku balik ke Jakarta. Stasiun Malang penuh. Gajayana, tiket kosong sampe tgl 18. Mau naik Mataremaja? wah sama juga bunuh diri, wong besuknya aku nyampe kantor pasti ga bisa langsung istirahat.

    Akupun meluncur ke Jombang setelah adikku dpt memastikan ada ticket bisnis kereta Bangunkarta, meski katanya tanpa tempat duduk. di benakku, meski tanpa tmpat duduk kereta bisnis pasti perhitungkan pelayanan bisnis, setidaknya akan ada pembatasan penumpang.

    Bagitu naik memang longgar di beberapa gerbong, tapi setelah jalan, pada setiap stasiun hingga di Madiun penumpang baru berbondong2 dgn berbagai bawaannya yang “wah”, dari dus-dus besar entah apa isinya, karung berisi mangga setngah masak…. alahh.. sekitar pukul 9 malam praktis kereta bisnis ini takj ubahnya kreta ekonomi biasa.

    Setengah 10an malam aku kebelet kencing, akupun melihat sebelahku yg memang daerah toilet di bordes kereta. kudorong2 pintunya, kuketuk..bushet..ga ada orang tp pintu bs tertutup rapat. seseorang lantas memberitahuku, bahwa toilet sudah diplot untuk pnempatan barang. tak urung, saat terjadi kres kreta, aku melompat keluar dan kencing meski aku tau banyak orang melihat…walahh, daripada ngompol di celana.

    Akupun ngedumel alang kepalang dalam hati. lebih2 waktu mlihat sendiri aksi petugas2 kreta yang menerima lembaran2 uang dari penumpang yang baru naik dan menawari mereka pelayanan khusus, contohnya ya menempatkan barang bawaannya di toilet itu td. puluhan kali orang kulihat harus kecewa plus menahan kencing waktu mreka ga bisa mengakses toilet yang waktu itu berada pas di belakangku.

    Petugas2 itu begitu ramai becanda sampai larut malam, membicarakan keuntungan mereka hingga kejadian2 yang menurut mereka lucu. diantara mereka terdapat seorang laki2 bertubuh agak tinggi dan tegap. tampak puas dengan aksi2nya yang jelas merampok di depan publik, dan tidak ada protes sedikitpun dari semua orang. kami merasa seperti barang ato binatang2 yang kelewat bodoh. mau protes saat itu? wahh… pasti akan jadi kliatan tambah bodoh lagi. aku dan mungkin smua orang saat itu hanya berfikir untuk segera sampai dan terlepas dari orang-orang brengsek ini. itu saja.

    Seorang bapak2 mengantarkan anaknya yang ingin kencing, sementara kereta melaju kencang. dia berusaha membuka pintu toilet, dan tentu saja terkunci. akupun memberitahunya, :nggak bis pak”. Bapak itu sedikit berang dan menggedor-gedor pintu… dan pintu pun tetap tak terbuka. Tiba-tiba kudengar suara petugas bertubuh tegap tadi berkata, “tidak bisa digunakan!”. aku melirik tipis ke arahnya, petugas yang tadinya berbaju PJKA abu-abu itu kini tampak memandang ke arah toilet dengan kaos ketat bertuliskan…Marinir. Astaga, jadi tambah mual aku dibuatnya. akhirnya kuputuskan untuk memejamkan mata dan berusaha tidurr… zzzzz.. zzz…zzzzz… jancuuuk.. zzz..zzz... jancuoookk ... zzzz..zz.. zzzz...

    Jakarta, Okto 2008

    Wednesday, January 4, 2012

    Keberanian Untuk Bersyukur

    Mudah dipahami betapa gampang orang bisa menjadi patah. kekecewaan berdempetan sedemikian lekatnya dengan mimpi, sementara konsentrasi kita tersedot habis habisan pada agenda keinginan keinginan. jika tak pandai pandai kita memahami keinginan dan menimbangnya dengan baik berlandas basis kemampuan dan potensi yang kita miliki beserta kemunginan eksternal yang mendukungnya, maka betapa mudahnya kita bisa terpelanting dari keinginan keinginan itu.

    Jika ini terjadi, maka itu artinya kita dihadapkan persoalan yang cukup genting, adakah kita akan meneruskan keinginan tersebut atau melemparkannya ke keranjang sampah sambil secara diam diam bergumam dalam hati, "sudahlah biarkan saja, masa bodoh dengan itu semua. jika sudah saatnya…dia mungkin akan datang". sikap pasrah semacam ini bukan tidak baik, tapi fatalisme dan penyerahan tanpa upaya namun tetap berharap hanya akan membelah diri kita dalam serpihan serpihan yang kabur. kenapa tak tancapkan saja beton cita cita yang dapat kita perhitungkan sambil menyiapkan energi sepenuhnya untuk meraih dengan tetap mempertimbangkan kemungkinan kemungkinan terburuk, sambil pula bersikap tegak dengan keberanian menatap kenyataan?

    Aah. dan kalau sudah satu saja keberhasilan menghampiri, energi-energi itu pun akan mendukung kita untuk merangkum banyak hal. bukan saja pragmatisme keinginan, namun juga sisa ruang kontemplatif demi sedapatnya kita bersiap menjemput keberhasilan maupun kegagalan berikutnya, mendidik kita untuk semakin dewasa dan arif, rilex dalam menghadapi hidup.

    Aku ingin bersyukur, tapi rasa ini sering tertutup dengan betapa besar godaan untuk mengejar dan mengejar, sehingga semakin merasa sulit kita dapat melompatinya sementara kita tak ada upaya, maka semakin pula kita punya kans besar untuk tercerabut dan terasing dari diri kita, karena sebagaimana kekecewaan, lupa diri sedemikian rapet jaraknya dengan keterpurukan….

    Maka Tuhan, berikan kepada kami
    keberanian untuk bersyukur …


    Jakarta January 16th, 2008
    ------------------------ **
    [Critanya ini sambil nyicil boyongan konten. Tulisan ini saya kopas dari blog saya sebelumnya, infectionary yang sudah nggak bisa saya akses lagi lantaran account email kena hack skitar 2 tahun lalu. korban keylogger. (hati-hati menggunakan warnet. pastikan nggak ada keylogger di dalamnya yang berfungsi merekam sluruh aktifitas keyboard anda termasuk password dll)]

    Tuesday, January 3, 2012

    Tak Usah Kita Tengkar

    beginilah sesaknya hari hari, tumpang tindih dengan keringat hati bercucuran hingga merembas ke sudut sudut terkecil pengharapan kita. aku hanya mengibaskan rambutku yang mulai memanjang lagi. mencoba menatap yang mungkin melintas di depan, apapun, tanpa harus kehilangan kendali sejarah di belakang.

    aku memburai beratus ratus luka dan menganyamnya di sini. segala kegetiran kuremas dan ingin mendidihkannya di jalan jalan kota. bagaimana dapat kulakukan? sedang betapa aku pun tersadar, telah mulai dimanjakan oleh segala citra yang kita bangunkan bersama. aku ingin memulai sesuatu dari teriakan kita di masa lalu, sungguh ku tak ingin kehilanganmu!

    aku tak pernah kemana mana, sudah kubilang itu. aku di sini, tetap di sumbu diri yang masih gelisah, meski tampaknya cahaya dapat sedemikian mudah mengelabuhi mata. sudahlah jangan lagi mau dijajah, entah oleh citra citra yang kita cipta sekali pun. aku ingin menari bersamamu seperti dulu, membaca puisi hingga teler, dan mabuk oleh tumpahan kata kata di sudut sudut kelam sejarah kita. maka jika aku pergi ke aulait atau batavia sambil menenggak tequela dan makanan makanan aneh yang tak dapat kuingat namanya, percayalah kepadaku, aku masih tetap di tempatku, dan aku akan masih merasa bersamamu.

    tetap damailah kita dan tak usah tengkar, setidaknya - seperti dulu kau suka memujiku - biarkan aku tetap merdeka, dengan segala pilihan potongan baju yang mungkin berbeda….



    * January 9th, 2008
    ------------------------ **
    Critanya ini sambil nyicil boyongan konten. Tulisan ini saya kopas dari blog saya sebelumnya, infectionary yang sudah nggak bisa saya akses lagi lantaran account email kena hack skitar 2 tahun lalu. korban keylogger. (hati-hati menggunakan warnet. pastikan nggak ada keylogger di dalamnya yang berfungsi merekam sluruh aktifitas keyboard anda termasuk password dll)

    Friday, November 4, 2011

    Siapa Sih Yang Gak Pengen Senang?

    Siapa orangnya tak ingin bahagia, mereguk mimpi sepuasnya, meski pada akhirnya kita sadar akan muntah dan menghampiri mimpi mimpi yang lain lagi. Telah kulintasi buruk manis dunia dan berdiri tegak. Meski tak sesengit seperti dulu tapi toh ini dunia yang sama. Ku berusaha tak menyesali yang sudah terjadi, semoga inilah yang terbaik.

    Aku pun tak beda, mendamba kebahagian tak bertepi, meski ku tahu itu tak mungkin. Sebab kebahagiaan tidak simultan, karena sebagaimana kesedihan ia juga membutuhkan penawar untuk memberi jalan nafas bagi perputaran hidup yang tak semata mata seperti mesin yang sedang bergerak secara mekanis. Merasa tidak beruntung, mungkin menghinggapi seluruh kepala yang pernah dilahirkan, kenapa tidak begini dan begitu, seperti ini dan itu? Bukannya mau bersikap fatalis, tapi ada baiknya juga bertanya balik, kenapa tak mensyukuri yang ada? Menerima kewajaran sembari merentang sayap kita untuk tetap merdeka? Mengapa duka cita yang hadir malah kita semaikan, kita panen untuk kemudian kita tanam kembali benih yang dihasilkannya di ladang ladang hati…bukankah kita sedang menumbuhkan pohonan dendam di semenjak dini?

    Dalam lagunya Iwan pernah bilang, ‘keinginan adalah sumber penderitaan’. Dan derita selalu saja kita keluhkan tanpa pernah kita sungguh sungguh membongkar latar keinginan yang menjadikan kita merasa menderita. Dan balas dendam pada hidup, sekali ia tumbuh akan menjadi sangat sulit untuk dipadamkan. Dan bila motivasi ini sudah membara, maka percayalah, ia akan mampu membakar segalanya, termasuk juga hidup kita sendiri. Jeratan keinginan untuk mendapatkan …nyaris tanpa reserve, dan hal ini akan semakin melambungkan angan angan untuk mengambil dan mengambil lagi. Dan seperti di tengah tengah samudera, semakin banyak kita meminum air dari laut, maka semakin hauslah kita…sampai kapan?

    Kisah berikut mungkin tidak cukup adil, dan karenanya aku bermaksud untuk tidak menulisnya disini...


    Jakarta, 28 November 2007

    Friday, August 19, 2011

    Aksi - Refleksi Vs Narsisme

    Lodzi
    Ada saatnya orang harus menyadari dirinya. bukan saja menyangkut hal hal yang menimpa dan menempatkannya selaku objek pesakitan, namun juga sejauh mana ia mampu menyerap segala kemungkinan dari apa yang telah ia timpakan (dalam posisi sebagai subjek) pada medan hidup yang ia lakoni, untuk kemudian mentahbiskannya sebagai bekal sikap yang upgraded bagi langkah ke depan kelak di kemudian hari.

    Secara normatif dapat kita katakan di sini, pengalaman adalah pelajaran untuk menambah bobot hidup diri, baik pada tingkat asumsi asumsi hingga skilling dan psikomotorik yang menjadi latar gerak progresi.

    Demikianlah lantas hidup adalah rangkaian kerja dan perenungan yang berlangsung secara simultan, terus menerus. kita menjalani, menyerap, hiruk pikuk dengan segala kegiatan yang bisa jadi sama sekali tak pernah kita rencanakan sebelumnya.

    Di siang hari mungkin kita menemui persoalan pelik di tengah jalan. otak dan segala kemampuan kita dipaksa habis habisan untuk mengambil tindakan tindakan yang bukan saja tepat tapi juga cepat. Kita pun berusaha dengan sebaik mungkin. Dan demikian di malam harinya kita tercengang mengingat seluruh kronologi kejadian tadi dan menganalisa semua yang telah kita ambil dan putuskan...di saat itu, sering kalinya kita baru menyadari alangkah bodohnya kita.

    Refleksi memiliki fungsi yang tidak saja merunut kejadian yang melibatkan diri kita baik secara langsung maupun tidak, sebagai pelaku ataupun korban. Rafleksi tak hanya menjadikan kita berhenti hanya pada aras ingatan kronologis belaka, melainkan melampaui proses check-recheck secara holistis yang karenanya mengharuskan pula kemampuan untuk dapat melompat jauh ke berbagai belantara memori, entah yang pernah kita alami sendiri, pengalaman orang lain hingga yang bersifat imajiner sebagai apa yang kita namakan "keharusan ideal".

    Dengan analog seperti biasa, di hidup kita miliki kaca. Melihat pantulan muka sendiri di sana maka kita seperti sedang mengukur kemungkinan dengan angle tertentu, bagaimana kiranya orang melihat kita: bagaimana kita di mata mereka.Mengambil jarak dari diri sendiri untuk membaca baik buruk gambaran yang menempel pada diri kita adalah tindakan yang menautkan seluruh potensi daya ingat serta mengasosiasikan diri sebagai subjek aktip yang sedang melihat jauh ke dalam diri.

    Dan sebagai catatan, setidaknya ada dua 'resiko' dari tindakan 'mengaca ini'. kita musti berhati hati!. Pertama, kita akan melihat diri sedemikian buruk dan ini bisa bikin kita lantas memecahkan kaca yang telah berjasa memantulkan wajah kita dan memberi banyak informasi penting. Akibatnya, ini bisa mengacaukan ketahanan self confidence, harapan dst. Dan Kedua, sebaliknya kita terjebak dalam 'ilusi' yang dapat saja diciptakan oleh kaca. Jika kita terlampau larut mengagumi diri sendiri, maka bahaya keterpurukan semisal kesombongan dan lupa daratan bisa jadikan diri juga akan merugi banyak. Orang jadi over confidence, menganggap diri paling benar dan karenanya akan mengalami kesulitan untuk belajar, terutama bagaimana cara memperlakukan hati...hidup dengan hati...padahal kita sendiri yakin, hanya melalui 'materi' inilah kebenaran hakiki baru dapat di akses.

    Mencintai dan mengagumi diri sendiri tentu saja boleh, bahkan harus, namun tentu dalam proporsi yang wajar. jika berlebih maka bisa bisa nasib kita akan berakhir seperti Narcissus, anak dari pasangan Dewa sungai, Chepissus dan peri Liriope dalam mitologi Yunani kuno.

    Narcissus yang memang sangat tampan mengacuhkan jerit cinta putri Echo. Suatu saat Dewi Nemesis melihat penderitan sang putri dan maneruh iba. Dia berniat menghukum Narcissus dengan menjadikannya jatuh cinta pada dirinya sendiri.

    Terjadilah yang harus terjadi, begitulah kira kira akhirnya Narcissus suatu hari berjalan di dekat sungai Styx dan tanpa sengaja melihat pantulan wajahnya sendiri. Ia pun jatuh cinta alang kepalang akan ketampanannya. Tak beranjak ia dari bibir sungai, hingga kemudian tewas tercebur ke dalamnya. Dewa dewa menemukan mayatnya dan mengubahnya menjadi bunga yang kemudian dinamakan narcissus.

    Dari kisah ini..kelak remaja remaja kita yang sudah tanpa malu memuji muji dirinya sendiri tanpa kemauan berkembang akan disebut sebagai anak anak narsis seperti juga kebanyakan orang tua kita!

    Wednesday, August 17, 2011

    Pancasila Dan Kesadaran Yang Terbit

    Teks Pidato Habibie Dalam Peringatan '66 Pancasila 2011: Sebuah Kesadaran Yang Terbit.@Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (1/6/2011)

    Assalamu ‘alaikum wr wb.
    Salam sejahtera untuk kita semua.

    Hari ini tanggal 1 Juni 2011, enam puluh enam tahun lalu, tepatnya 1 Juni 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno menyampaikan pandangannya tentang fondasi dasar Indonesia Merdeka yang beliau sebut dengan istilah Pancasila sebagai philosofische grondslag (dasar filosofis) atau sebagai weltanschauung (pandangan hidup) bagi Indonesia Merdeka.

    Selama enam puluh enam tahun perjalanan bangsa, Pancasila telah mengalami berbagai batu ujian dan dinamika sejarah sistem politik, sejak jaman demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, era Orde Baru hingga demokrasi multipartai di era reformasi saat ini. Di setiap jaman, Pancasila harus melewati alur dialektika peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah.

    Sejak 1998, kita memasuki era reformasi. Di satu sisi, kita menyambut gembira munculnya fajar reformasi yang diikuti gelombang demokratisasi di berbagai bidang. Namun bersamaan dengan kemajuan kehidupan demokrasi tersebut, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: Di manakah Pancasila kini berada?

    Pertanyaan ini penting dikemukakan karena sejak reformasi 1998, Pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan. Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong sunyi justru di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik.

    Mengapa hal itu terjadi? Mengapa seolah kita melupakan Pancasila?

    Para hadirin yang berbahagia,

    Ada sejumlah penjelasan, mengapa Pancasila seolah "lenyap" dari kehidupan kita. Pertama, situasi dan lingkungan kehidupan bangsa yang telah berubah baik di tingkat domestik, regional maupun global. Situasi dan
    lingkungan kehidupan bangsa pada tahun 1945 -- 66 tahun yang lalu -- telah mengalami perubahan yang amat nyata pada saat ini, dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Beberapa perubahan yang kita alami antara lain:

    (1) terjadinya proses globalisasi dalam segala aspeknya;
    (2) perkembangan gagasan hak asasi manusia (HAM) yang tidak diimbagi
    dengan kewajiban asasi manusia (KAM);
    (3) lonjakan pemanfaatan teknologi informasi oleh masyarakat, di mana
    informasi menjadi kekuatan yang amat berpengaruh dalam berbagai
    aspek kehidupan, tapi juga yang rentan terhadap "manipulasi" informasi
    dengan segala dampaknya.

    Ketiga perubahan tersebut telah mendorong terjadinya pergeseran nilai yang dialami bangsa Indonesia, sebagaimana terlihat dalam pola hidup masyarakat pada umumnya, termasuk dalam corak perilaku kehidupan politik dan ekonomi yang terjadi saat ini. Dengan terjadinya perubahan tersebut diperlukan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila agar dapat dijadikan acuan bagi bangsa Indonesia dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi saat ini dan yang akan datang, baik persoalan yang datang dari dalam maupun dari luar. Kebelum-berhasilan kita melakukan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila tersebut menyebabkan keterasingan Pancasila dari kehidupan nyata bangsa Indonesia.

    Kedua, terjadinya euphoria reformasi sebagai akibat dari traumatisnya masyarakat terhadap penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu yang mengatasnamakan Pancasila. Semangat generasi reformasi untuk menanggalkan segala hal yang dipahaminya sebagai bagian dari masa lalu dan menggantinya dengan sesuatu yang baru, berimplikasi pada munculnya ‘amnesia nasional’ tentang pentingnya kehadiran Pancasila sebagai grundnorm (norma dasar) yang mampu menjadi payung kebangsaan yang menaungi seluruh warga yang beragam suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa, agama dan afiliasi politik. Memang, secara formal Pancasila diakui sebagai dasar negara, tetapi tidak dijadikan pilar dalam membangun bangsa yang penuh problematika saat ini.

    Sebagai ilustrasi misalnya, penolakan terhadap segala hal yang berhubungan dengan Orde Baru, menjadi penyebab mengapa Pancasila kini absen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Harus diakui, di masa lalu memang terjadi mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis, terstruktur dan massif yang tidak jarang kemudian menjadi senjata ideologis untuk mengelompokkan mereka yang tak sepaham dengan pemerintah sebagai "tidak Pancasilais" atau "anti Pancasila" . Pancasila diposisikan sebagai alat penguasa melalui monopoli pemaknaan dan penafsiran Pancasila yang digunakan untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan. Akibatnya, ketika terjadi pergantian rezim di era reformasi, muncullah demistifikasi dan dekonstruksi Pancasila yang dianggapnya sebagai simbol, sebagai ikon dan instrumen politik rezim sebelumnya. Pancasila ikut dipersalahkan karena dianggap menjadi ornamen sistem politik yang represif dan bersifat monolitik sehingga membekas sebagai trauma sejarah yang harus dilupakan.

    Pengaitan Pancasila dengan sebuah rezim pemerintahan tententu, menurut saya, merupakan kesalahan mendasar. Pancasila bukan milik sebuah era atau ornamen kekuasaan pemerintahan pada masa tertentu. Pancasila juga bukan representasi sekelompok orang, golongan atau orde tertentu. Pancasila adalah dasar negara yang akan menjadi pilar penyangga bangunan arsitektural yang bernama Indonesia. Sepanjang Indonesia masih ada, Pancasila akan menyertai perjalanannya. Rezim pemerintahan akan berganti setiap waktu dan akan pergi menjadi masa lalu, akan tetapi dasar negara akan tetap ada dan tak akan menyertai kepergian sebuah era pemerintahan!

    Para hadirin yang berbahagia,

    Pada refleksi Pancasila 1 Juni 2011 saat ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang sudah dikemukakan banyak kalangan yakni perlunya kita melakukan reaktualisasi, restorasi atau revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang. Problema kebangsaan yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, memerlukan solusi yang tepat, terencana dan terarah dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pemandu arah menuju hari esok Indonesia yang lebih baik.

    Oleh karena Pancasila tak terkait dengan sebuah era pemerintahan, termasuk Orde Lama, Orde Baru dan orde manapun, maka Pancasila seharusnya terus menerus diaktualisasikan dan menjadi jati diri bangsa yang akan mengilhami setiap perilaku kebangsaan dan kenegaraan, dari waktu ke waktu. Tanpa aktualisasi nilai-nilai dasar negara, kita akan kehilangan arah perjalanan bangsa dalam memasuki era globalisasi di berbagai bidang yang kian kompleks dan rumit.

    Reformasi dan demokratisasi di segala bidang akan menemukan arah yang tepat manakala kita menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh toleransi di tengah keberagaman bangsa yang majemuk ini. Reaktualisasi Pancasila semakin menemukan relevansinya di tengah menguatnya paham radikalisme, fanatisme kelompok dan kekerasan yang mengatasnamakan agama yang kembali marak beberapa waktu terakhir ini. Saat infrastruktur demokrasi terus dikonsolidasikan, sikap intoleransi dan kecenderungan mempergunakan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan, apalagi mengatasnamakan agama, menjadi kontraproduktif bagi perjalanan bangsa yang multikultural ini. Fenomena fanatisme kelompok, penolakan terhadap kemajemukan dan tindakan teror kekerasan tersebut menunjukkan bahwa obsesi membangun budaya demokrasi yang beradab, etis dan eksotis serta menjunjung tinggi keberagaman dan menghargai perbedaan masih jauh dari kenyataan.

    Krisis ini terjadi karena luruhnya kesadaran akan keragaman dan hilangnya ruang publik sebagai ajang negosiasi dan ruang pertukaran komunikasi bersama atas dasar solidaritas warganegara. Demokrasi kemudian hanya menjadi jalur antara bagi hadirnya pengukuhan egoisme kelompok dan partisipasi politik atas nama pengedepanan politik komunal dan pengabaian terhadap hak-hak sipil warganegara serta pelecehan terhadap supremasi hukum.

    Dalam perspektif itulah, reaktualisasi Pancasila diperlukan untuk memperkuat paham kebangsaan kita yang majemuk dan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan akan dibawa ke mana biduk peradaban bangsa ini berlayar di tengah lautan zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu menyegarkan kembali pemahaman kita terhadap Pancasila dan dalam waktu yang bersamaan, kita melepaskan Pancasila dari stigma lama yang penuh mistis bahwa Pancasila itu sakti, keramat dan sakral, yang justru membuatnya teralienasi dari keseharian hidup warga dalam berbangsa dan bernegara. Sebagai sebuah tata nilai luhur (noble values), Pancasila perlu diaktualisasikan dalam tataran praksis yang lebih ‘membumi' sehingga mudah diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan.

    Para hadirin yang berbahagia,

    Sebagai ilustrasi misalnya, kalau sila kelima Pancasila mengamanatkan terpenuhinya "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia", bagaimana implementasinya pada kehidupan ekonomi yang sudah mengglobal sekarang ini?

    Kita tahu bahwa fenomena globalisasi mempunyai berbagai bentuk, tergantung pada pandangan dan sikap suatu Negara dalam merespon fenomena tersebut. Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, adalah pengalihan kekayaan alam suatu Negara ke Negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke Negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus "membeli jam kerja" bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu "VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru".

    Implementasi sila ke-5 untuk menghadapi globalisasi dalam makna neo-colonialism atau "VOC-baju baru" itu adalah bagaimana kita memperhatikan dan memperjuangkan "jam kerja" bagi rakyat Indonesia sendiri, dengan cara meningkatkan kesempatan kerja melalui berbagai kebijakan dan strategi yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan usaha meningkatkan "Neraca Jam Kerja" tersebut, kita juga harus mampu meningkatkan "nilai tambah" berbagai produk kita agar menjadi lebih tinggi dari "biaya tambah"; dengan ungkapan lain, "value added" harus lebih besar dari "added cost". Hal itu dapat dicapai dengan peningkatan produktivitas dan kualitas sumberdaya manusia dengan mengembangkan, menerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Dalam forum yang terhormat ini, saya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para tokoh dan cendekiawan di kampus-kampus serta di lembaga-lembaga kajian lain untuk secara serius merumuskan implementasi nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam lima silanya dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dalam konteks masa kini dan masa depan. Yang juga tidak kalah penting adalah peran para penyelenggara Negara dan pemerintahan untuk secara cerdas dan konsekuen serta konsisten menjabarkan implementasi nilai-nilai Pancasila tersebut dalam berbagai kebijakan yang dirumuskan dan program yang dilaksanakan. Hanya dengan cara demikian sajalah, Pancasila sebagai dasar Negara dan sebagai pandangan hidup akan dapat ‘diaktualisasikan' lagi dalam kehidupan kita.


    Memang, reaktualisasi Pancasila juga mencakup upaya yang serius dari seluruh komponen bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai sebuah visi yang menuntun perjalanan bangsa di masa datang sehingga memposisikan Pancasila menjadi solusi atas berbagai macam persoalan bangsa. Melalui reaktualisasi Pancasila, dasar negara itu akan ditempatkan dalam kesadaran baru, semangat baru dan paradigma baru dalam dinamika perubahan sosial politik masyarakat Indonesia.

    Para hadirin yang saya hormati,
    Oleh karena itu saya menyambut gembira upaya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akhir-akhir ini gencar menyosialisasikan kembali empat pilar kebangsaan yang fundamental: Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Keempat pilar itu sebenarnya telah lama dipancangkan ke dalam bumi pertiwi oleh para founding fathers kita di masa lalu. Akan tetapi, karena jaman terus berubah yang kadang berdampak pada terjadinya diskotinuitas memori sejarah, maka menyegarkan kembali empat pilar tersebut, sangat relevan dengan problematika bangsa saat ini. Sejalan dengan itu, upaya penyegaran kembali juga perlu dilengkapi dengan upaya mengaktualisasikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam keempat pilar kebangsaan tersebut.


    Marilah kita jadikan momentum untuk memperkuat empat pilar kebangsaan itu melalui aktualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai weltanschauung, yang dapat menjadi fondasi, perekat sekaligus payung kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian kita, seperti nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai permusyawaratan dan keadilan sosial, saya yakin bangsa ini akan dapat meraih kejayaan di masa depan. Nilai-nilai itu harus diinternalisasikan dalam sanubari bangsa sehingga Pancasila hidup dan berkembang di seluruh pelosok nusantara.

    Public Religion"" and the Pancasila-Based State of Indonesia (American University Studies. Series VII. Theology and Religion) Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik sehingga tidak menjadi slogan politik yang tidak ada implementasinya. Saya yakin, meskipun kita berbeda suku, agama, adat istiadat dan afiliasi politik, kalau kita mau bekerja keras kita akan menjadi bangsa besar yang kuat dan maju di masa yang akan datang.

    Melalui gerakan nasional reaktualisasi nilai-nilai Pancasila, bukan saja akan menghidupkan kembali memori publik tentang dasar negaranya tetapi juga akan menjadi inspirasi bagi para penyelenggara negara di tingkat pusat sampai di daerah dalam menjalankan roda pemerintahan yang telah diamanahkan rakyat melalui proses pemilihan langsung yang demokratis. Saya percaya, demokratisasi yang saat ini sedang bergulir dan proses reformasi di berbagai bidang yang sedang berlangsung akan lebih terarah manakala nilai-nilai Pancasila diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Demikian yang bisa saya sampaikan. Terimakasih atas perhatiannya.

    Wassalamu ‘alaikum wr wb.

    Monday, February 7, 2011

    Siapa yang kejam: Jakarta atau Kamu?

    Yang tampak tidaklah lain dari hal hal usang tentang rendahnya derajat manusia untuk dapat membekuk semua yang ada di sekelilingnya demi menyerah pada semua kemauannya!

    apa yang dibilang manusia tentang kesalihan, empaty bahkan altruisme? Aku bergerak maju dan mundur di waktu yang bersamaan. Di mana puisi puisiku tak kudapati lagi di tempatnya. Aku tak punya senapan, tapi sebilah pedang telah lama menemani jimat merah di kepalaku untuk setiap kali berteriak lantang di medan medan pertempuran.

    Dan bukankah peperangan belum juga selesai, mungkin baru akan dimulai? Tapi aku merasa sedemikian terpuruk, jiwaku sepi, kering. di sekelilingku orang berteriak, mengancam atas nama hal hal yang mereka sendiri sadari sebagai materi yang palsu. Kekalahan mereka dalam melawan dirinya sendiri telah mereka tumpahkan ke mukaku menjadi serupa buruk kedengkian.

    Kegilaan itu membuncit, dan aku bertahan separuh nafas..tak lantang meski aku bukan tembok. Aku mungkin sedikit bisa mengerti kenapa Mao menuliskan puisi itu…dulu…

    Jakarta yang kejam, atau kamu yang sesungguhnya tak berani mengaku, hingga lantas kau jual apa saja, termasuk jiwa keringatku dan mereka sambil dengan betapa pongah kau bicara dikelilingi anjing anjingmu yang setia: aku bisa saja melenyapkanmu kapan saja saat aku mau!

    Jakarta, June 26th, 2008

    Sunday, January 2, 2011

    "Panggung" Di Tengah Proses

    waktu itu kami larut dalam latihan rutin untuk sebuah pertunjukan teater di kampus. setiap hari kami bertemu, bercanda dan berlatih hingga larut malam. siapapun orang yang melihat pasti akan mengakui bahwa dia memang menarik. cantik. tapi meski demukian sejauh itu aku masih bersikap wajar wajar saja. perasaanku pun tak lebih dari seorang kakak yang menyayangi adiknya, tanpa tendensi apaun selain bahwa aku memang kagum dengan semangatnya dan sebagai sutradara aku membutuhkan semangat aktor seperti itu. ditambah lagi aku juga tahu dia sudah punya pacar dan beberapa kali melihatnya diantar ke lokasi latihan. tapi tentu saja hal ini tak begitu saja membuatku tak mengakui bahwa dia menarik, cantik.

    begitulah dan sudah hampir dua bulan kami latihan. dan kedatangannya setiap sore bersama beberapa orang teman ceweknya yang juga ikut dalam proses penggarapan naskah itu semakin membuatku masyuk. tiba tiba saja aku merasa mulai menyukainya. ini tidak tanpa alasan. beberapa kali aku memergokinya bersikap agak lain. meski saat itu aku coba tepis dan berdalih bahwa mungkin aku hanya GR saja, tapi kenyataannya keadaan itu semakin meruncing dan entah kenapa aku mulai memikirkannya, hampir setiap malam. lah, apa yang terjadi?! aku sendiri mulai berhati hati juga sejak saat itu. sebagai sutradara aku tak ingin mengamputasi prosesku sendiri dan tak akan merusak konsentrasi latihan. aku harus tetap waras!

    suatu hari Melly, teman sejalannya sakit dan libur latihan. sore itu dia datang lebih awal dan kami hanya berdua di base camp. kami bercakap cakap ringan ketika dia lantas mengusulkan untuk mengunjungi Melly ke kostnya. anehnya kami bersepakat untuk pergi berdua saja besuk siangnya. setelah latihan malam itu aku langsung naik sepeda untuk kembali ke camp, tiba tiba dia memanggil dan seperti agak ragu ragu bertanya tentang rencana kami. aku pun mengangguk mengiyakan. dan benar saja esok siang nya dia datang dengan sebuah bungkusan berisi kue. dia membuat khusus untuk menjenguk Melly, katanya.

    kami mampir ke camp. tentu saja tak ada siapa siapa. hanya kami berdua. hari itu panas dan dia menurut saja waktu aku bilang "bentar ya...agak sorean..". aku memutar fil dan kami menonton hingga pukul tiga sore. tak terasa banyak hal pribadi telah kami bicarakan berdua, satu hal yang tak mungkin terjadi di tengah rutinitas latihan yang ketat. dia juga cerita tentang pacarnya yang mulai uring uringan dengan aktifitasnya di teater..hmmm. kami pun berangkat menuju kost Melly dengan naik angkot. tak banyak yang kami bicarakan, hanya entah kenapa aku begitu berani memandang wajahnya. beberapa kali kami saling tatap demikian dekat. aku menyentuh keningnya yang sedikit terdapat bercak dan bertanya kenapa. "alergi", katanya. oh, betapa ingin aku menyentuh wajah itu dan siapa sangka aku melakukannya dan dia tak menghindar sama sekali.

    Melly tak ada di rumah, kami pun kembali tetap dengan kue itu. di perjalanan pulang aku berbisik ke telinganya -- entah tenaga gaib apa yang mendorongku -- " aku menulis sebuah puisi untukmu..". sejenak akulihat dia tersentak, "untukku?!" aku mengangguk pelan dan dia segera bisa menyembunyikan keterkejutannya. saat itu aku bisa menelisik ke kedalaman matanya, dia senang mendengar bisikanku. sejak hari itu hubungan kami secara pribadi makin intens, meski ada semacam kesepakatan bahwa kami akan merahasiakan hal itu di lingkungan latihan.

    sehari kemudian kami latihan hingga jam sebelas malam. saat latihan baru dimulai dan seluruh aktor harus melakukan warming up dengan berlari keliling lapangan aku tertinggal di lobby gedung tempat kami biasa melakukan senam dan eksplorasi. aku memasukkan sebuah puisi ke dalam tas kecilnya. hatiku berdebar debar saat itu, bagaimana reaksinya kelak setelah ia membacanya. saat pulang aku berbisik di dekatnya, "puisi itu sudah aku masukkan dalam tasmu". dia maklum dan tak hendak bertanya ini itu. dia pun pulang. aku ingat hari itu adalah jumat. besuknya aku tahu dia tak ada jadwal kuliah. aku duduk duduk bersama teman teman di belakang cafe. betapa terkjutnya aku melihatnya ada di depan perpustakaan dan sedang berjalan melintas dsi depanku. tidak biasanya dia lewat tempat itu kalau pulang kuliah dan seperti yang kubilang, dia tak ada jadwal kuliah hari itu.

    dia tersenyum ke arahku. aku paham arti dari yang dilakukannya. namun apa hendak kata, terus terang aku masih sedikit kebingungan ketika itu. antara senang, salah tingkah, grogi...ahh. akhirnya dia pulang dan aku telah sedemikian sempurna menafsirkan setiap tanda. aku semakin tak bisa tidur memikirkannya, aku mencintainya! tapi satu hal dimana aku juga tak kuasa menutup mata, bukankah dia sudah punya pacar? aduh bagaimana ini? dan aku juga sudah bisa pastikan dia juga mencintaiku? ingin sekali aku bertanya tapi seperti ada yang melarangku melakukannya...aku mengiriminya beberapa puisi lagi setelah itu dan aku sungguh tahu dia senang menerimanya. oh tuhan, aku benar benar sedang jatuh cinta!

    ada pertemuan BEM fakultas hukum sejatim di batu. hari itu kami sepakat libur latihan selama tiga karena dia dan juga Melly harus ikut sebagai panitia. di malam kedua kebetulan aku diundang untuk hadir dalam pertemuan itu. aku pun meluncur ke batu dan tentu saja bertemu dengannya di sana. aku tahu dia bersinar sinar melihat kedatanganku yang tak kubicarakan sebelumnya. bodohnya, malam itu dalam sebuah diskusi yang panas aku marah marah pada panitia. ditambah lagi dengan pengaruh alkohol yang cukup banyak. dia melihat kejadian tersebut karena malam itu tak tidur hingga larut. aku menyesal dan takut itu akan memberikan dampak buruk bagi hubungan kami. apa lagi dia tahu aku mabuk. tapi esok paginya waktu bangun tidur aku melihatnya tersenyum dan mendatangiku yang sedang duduk sendirian. dai tak menyinggung kejadian malam itu sama sekali. aku lega dan masih melihatnya sedemikian cantik. aku serahkan tiga lembar kertas berisi cerpen yang kutulis empat-lima hari sebelumnya saat di pantai Tamban. dia berkata waktu itu, "mas, aku ingin segera pulang..". aku terkejut, "kenapa?", tanyaku penasaran. "aku ingin segera membaca tulisan ini...". ya tuhan, sungguh mati aku bahagia sekali mendengar tuturannya. dia juga bercerita bahwa saat menerima puisiku yang pertama, dia membacanya sambil jalan. saking senang dan penasarannya dengan isi puisi itu dia sampai sampai kebablasan jalan dan lupa harus belok. haha...aku tertawa mendengar cerita dan sikap wajah lugunya itu.

    kami pulang bersama. dia naik di mobil sementara aku naik sepeda motor. aku bilang saat itu, "nanti latihan lho". padahal aku tak benar benar bermaksud demikian. tentu saja kami capek saat itu. dan sungguh, siapa sangka dia benar benar datang. padahal dia tahu bahwa aku tak serius berkata demikian dan memang teman teman cewek lainnya nggak ada yang datang. kami hanya bercengkrama sore itu di camp. aku melihatnya tertawa dan tampak bahagia sekali. aku juga tahu dia pasti telah membaca cerpen itu saat ia berpamitan pulang untuk mandi sebelum dia datang ke camp.
    **

    seperti biasa sore itu aku bersiap untuk latihan, dan tentu aku berharap segera bisa melihatnya. satu..dua..tiga...teman teman mulai datang, tapi kenapa dia tak ada? kemana? aku mulai gelisah. saat itu waktu menunjuk hampir pukul 20.00. aku bertanya pada Dede, kemana dia? sahabatnya itu juga menggeleng tak tahu. sebentar kemudian Dede datang dari arah luar dan berkata bahwa Shinta akan segera datang. tampaknya DEede baru menelponya. dan benar saja, selang lima belas menit gadis itu datang. aku sedikit lega, tapi bagaimana lagi waktu sudah terlalu malam untuk latihan. kami hanya berkumpul kumpul saja dan saat itu aku juga tak bertanya kenapa terlambat. dia tak menjawab terus terang. namun diu hari berikutnya aku baru akan tahu bahwa malam itu dia ada pertemuan dengan pacarnya dan mereka memutuskan hubungan.

    aku tak tahu harus pura pura sedih atau gembira mendengar kabar itu. dan kenapa juga dia musti ceritakan padaku? "jadi kamu jomblo sekarang?", tanyaku menggoda. dia mengangguk tanpa suara. "kalau gitu siap siap saja...hehe", godaku lagi.

    BERSAMBUNG...


    Malang June 23, 2007

    Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.