Monday, August 27, 2012

Roundup Monsanto Sebabkan Cacat Lahir

F. William Engdahl

Sebuah studi ilmiah telah mengkonfirmasi keyakinan yang selama ini berkembang bahwa herbisida kimia yang paling banyak digunakan di dunia, Roundup yang diproduksi Monsanto Corporation, adalah beracun dan berbahaya bagi organisme manusia serta hewan. Penelitian ilmiah terbaru yang dilakukan oleh tim ilmiah multinasional yang dipimpin oleh Profesor Andrés Carrasco, kepala Laboratorium Embriologi Molekuler di University of Buenos Aires Medical School dan anggota Argentina’s National Council of Scientific and Technical Research, menyajikan sebuah demonstrasi yang meresahkan, yakni bahwa Monsanto beserta industri agribisnis transgenik telah secara sistematis berbohong tentang keamanan Roundup mereka. Roundup dalam pemakaian yang jauh lebih rendah daripada yang digunakan dalam pertanian dikaitkan dengan persoalan cacat lahir (birth defects). Implikasi kesehatan yang diakibatkannya sangatlah besar. Semua tanaman transgenik utama yang ada di pasaran saat ini secara genetik telah dimanipulasi untuk dapat “mentolerir” herbisida Roundup.

Glifosat telah dipatenkan oleh Monsanto pada 1970-an jauh sebelum GMO dikomersialisasikan sebagai apa yang dinamakan si pembunuh gulma spektrum luas (broad-spectrum weed killer). zat ini biasanya disemprotkan dan diserap melalui daun atau digunakan sebagai herbisida hutan. Pada awalnya zat ini dipatenkan dan dijual oleh Monsanto di bawah nama dagang Roundup, yang juga mengandung tambahan bahan-bahan kimia, dimana perusahaan menolak untuk menjelaskannya dengan dalih “rahasia dagang”. Pada tahun 2005, 87% dari semua ladang kedelai AS ditanami varietas kedelai transgenik tahan Glifosat dan disemprot dengan Roundup.

Karena benih-benih kedelai transgenik “Roundup Ready” (RR) Monsanto atau tanaman lainnya telah dimanipulasi semata-mata untuk menjadi “tahan” terhadap herbisida Roundup, sementara kehidupan semua tanaman lain di ladang tersebut terbunuh oleh Roundup, maka petani yang menggunakan benih RR juga harus membeli herbisida Roundup, (yang ini berarti) menciptakan captive market untuk baik benih maupun bahan-bahan kimia (dimana petani dipaksa untuk bergantung).

Masalahnya dengan pola pengaturan yang top markotop ini, selain dari fakta bahwa “super-gulma” tahan-Roundup sedang menyeruak sebagai sebuah bencana biologis baru, adalah bahwa glisofat saat ini telah terbukti memiliki keterkaitan dengan masalah cacat lahir, yang ini menegaskan keberadaannya sebagai salah satu zat yang paling beracun di dalam pertanian.  Meski demikian The US Government’s Environmental Protection Agency (EPA) masih tetap menganggap Roundup sebagai “relatif rendah dalam toksisitas dan tanpa efek karsinogenik maupun teratogenik”. Di Amerika Serikat Pemerintah AS dikenal tunduk pada data uji Monsanto dan industri agribisnis dalam membuat regulasi dan aturan-aturan tentang keamanan berdasarkan The 1992 doctrine of Substantial Equivalence yang menyatakan bahwa benih transgenik “secara substansial adalah setara” dengan benih-benih biasa dan karenanya tidak membutuhkan perlakuan kesehatan independen ataupun uji keamanan. Dan sementara herbisida diperlakukan sedikit berbeda, adalah fakta bahwa industri agribisnis yang mempengaruhi banyak kebijakan Pemerintah AS, telah mengasuransikan Roundup sebagai treatment paling ramah hingga saat ini.

Hasil Yang Meresahkan
Sebuah tim ilmiah internasional baru yang dipimpin oleh Prof. Andres Carrasco beserta para peneliti lain dari Inggris, Brasil, Amerika Serikat, dan Argentina telah mendemonstrasikankan bahwa glifosat, bahan aktif utama pada Roundup, dapat menyebabkan malformasi pada embrio katak dan ayam pada pemakaian dosis yang jauh lebih rendah dibanding yang digunakan pada penyemprotan pertanian serta jauh di bawah tingkat residu maksimum dalam berbagai produk, belakangan telah disetujui di Uni-Eropa*. Kelompok Carrasco tersebut diminta untuk meneliti dampak-dampak embrionis pada glifosat sebagai tindak lanjut dari laporan atas tingginya tingkat cacat lahir di daerah-daerah pedesaan Argentina, di mana kedelai siap tanam Roundup Ready (RR) milik Monsanto, yang secara genetik telah dimodifikasi, tumbuh pada area monokultur yang luas dan secara reguler disemprot melalui udara dengan pesawat. kedelai RR direkayasa untuk mentolerir Roundup. Dalam proses pertumbuhannya para petani bisa dengan leluasa menyemprotkan herbisida untuk membunuh gulma.

Carrasco mempresentasikan temuan kelompoknya tersebut dalam sebuah konferensi pers pada event European Conference of GMO Free Regions ke-6 di Parlemen Eropa, Brussels. Dia mengemukakan, “Temuan di laboratorium memiliki kecocokan dengan malformasi yang terjadi pada manusia yang terkena glifosat selama masa kehamilan.”

Laporan terjadinya penyebaran malformasi pada manusia mulai dilaporkan di Argentina  pada awal 2002, yakni dua tahun setelah  penyemprotan Roundup dari udara serta penanaman Kedelai RR dimulai. Hewan-hewan uji yang digunakan oleh kelompok Carrasco ini menunjukkankan mekanisme perkembangan yang serupa dengan yang terjadi pada manusia. Para penulis menarik sebuah kesimpulan “raise concerns about the clinical findings from human offspring in populations exposed to Roundup in agricultural fields“. Carrasco menambahkan, “Klasifikasi toksisitas glifosat terlalu rendah. Dalam beberapa kasus ini dapat menjadi sebuah racun yang sangat kuat”.

Tingkat maksimum residu (MRL) yang diperbolehkan untuk glifosat pada tanaman kedelai di Uni Eropa dinaikkan 200 kali lipat dari 0,1 mg/kg menjadi 20 mg/kg pada tahun 1997 setelah kedelai “Roundup Ready“  yang secara genetik dimanipulasi, diperdagangkan di Eropa. Carrasco menemukan kelainan pada embrio yang disuntik dengan 2,03 mg/kg glifosat. Secara tipikal kedelai biasanya dapat mengandung residu glifosat hingga 17mg/kg.

Pada bulan Agustus 2010 sekelompok massa menyerang kerumunan orang yang sedang berkumpul mendengarkan pembicaraan Carrasco tentang penelitiannya di kota La Leonesa, provinsi Chaco . Para saksi melihat adanya tokoh-tokoh agro-industri lokal terlibat dalam serangan itu. Viviana Peralta, seorang ibu rumah tangga dari San Jorge, Santa Fe, Argentina dirawat di rumah sakit bersama-sama dengan bayinya setelah penyemprotan  Roundup dari pesawat terbang di dekat rumahnya. Peralta dan penduduk lainnya mengajukan gugatan yang mengahasilkan larangan penyemprotan Roundup dan bahan kimia pertanian lainnya di dekat rumah oleh pengadilan setempat.[]

* Paganelli, A., Gnazzo, V., Acosta, H., López, S.L., Carrasco, A.E. 2010. Glyphosate-based herbicides produce terato-genic effects on vertebrates by impairing retinoic acid signaling. Chem. Res. Toxicol., August 9, Silahkan akses disini

Source. Tembelek.Com
** Translation By Loji

Artikel Terkait:

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...